Kota

“Setuju nggak, kalau setiap orang tuh punya enerji tersediri dengan setiap kota yang pernah di kunjunginya?” tanya Tomi memecah konsentrasi Nika yang lagi serius membaca novel karangan Agatha Christie kesayangannya.

“Orang yang karakternya dinamis ga akan cocok dengan kota yang sepi, tenang, dan damai. Sebaliknya orang yang sederhana ga akan menikmati kehidupan di kota yang bising, metropolitan, dan penuh hura-hura. Setuju nggak?”

Tomi terus melanjutkan ocehannya tanpa menghiraukan sahabatnya yang sedang fokus memahami intrik permasalahan cerita detektif Hercule Poirot. Nika pun akhirnya mengalah. Ia menaruh pembatas buku di halaman yang terakhir ia baca dan meletakkan novel tersebut di samping gelas kopinya. Seperti biasa, hari ini adalah Sabtu siang dimana Tomi dan Nika rutin menghabiskan waktu berjam-jam di Pascucci Cafe belakang apartment mereka.

“Apa lo bilang?” sahut Nika yang masih belum jelas maksud kata-kata Tomi.

“Jadi gini, tiap orang tuh punya karakter kota yang disukai. Yang artinya, each city represents his personality. Am I right?” tutur Tomi.

“How many cities have you ever visited? Eight? Ten? Baik dalam maupun luar negeri.” Sambungnya semangat.

(ini kayaknya ntar deh pas tengah2 obrolan) Nika yang lagi menyeruput Vanilla Latte kesukaannya pun segera meletakkan gelasnya, ingin menjawab celotehan sahabatnya itu.

“Kayaknya gue udah pernah jalan-jalan ke beberapa kota di Asia dan Amerika. Seoul, Tokyo, Busan, New York, Denpasar Bali, Bandung, Jogja. Kayaknya itu yang gw ingat.” Jawab Nika.

‘Nah, kota mana yang paling lo sukai dan apa alasannya?”

“Hmm.. Gue suka semuanya.” Nika pun tertawa.

Tomi yang cukup serius menatap Nika dengan kecewa. “Ayolah, coba lo jelasin kota mana yang paling lo sukai dan apa alasannya!” sergah Tomi cukup ketus.

“Kalau boleh dibilang kalau luar negeri gue sukanya Seoul dan Tokyo. Kotanya bersih, infrastukturnya rapi dan lengkap, ramai, banyak turis asing dan bersahabat karena bahasa inggris dimana-mana, culture nya pun cukup terjaga tapi people-nya modern. Nah lho bingung kan?” ungkap Nika sambil mikir.

Kalau lo?

Kok lo random gini sih? Habis baca apaan emang?

Kalau gue suka Jogja dan Malang. Kalau jojga karena kotanya ramah dan tenang. Sedangkan Malang..

Mari bersambung. Gw bingung~~~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s