What’s up me!

Even though writing in a blog is supposed to be meaningful, I thought at least posting an update of my life is not ugly. Yeah. I have been quite busy these days doing these and those. I don’t have to think or write anything related to blog. :p As usual, my routine is working (and eating, sleeping, and I don’t know) but I feel tired. Literally tired. I didn’t get enough sleep, perhaps. One of exact reasons is because the the weather is getting colder. If you know what I meant, cold makes you lazy. Haha.

Well, to make it more alive, I am still pursuing my dreams in several aspects. So, I am waiting for some good results in these coming months. At least I am trying to make a better life this year. Oh no! I just have 2.5 months left before the end of the year. It makes me crazy to think how many targets that I achieved already. Haha. Ok then. Bye. See you with more important posting in this blog! 😀

Advertisements

Tulisan Sampah

I sincerely apologize to you all, readers, yang akhir-akhir ini cuman baca tulisan sampah di blog ini. Isinya kebanyakan curhat. Padahal gw sudah berjanji bisa ngasih tulisan yang bermutu dan informatif untuk para pembaca blog ini. Selain emang blog adalah tempat curhat pribadi, namun lama-kelamaan kayaknya kemampuan nulis gw ga meningkat-ningkat kalau cuman nulis curhatan laki-laki single umur 25. Gah! Life is hard, dude! Kebutuhan untuk melampiaskan kegalauan selain lewat do’a, bisa lewat blog ini.

Kesibukan dan kemumetan keseharian mungkin menjadi faktor tulisan gw ga berkembang. I just feel terkurung dalam tempurung perusahaan yang membuat gw ga bisa berkembang dan melakukan hal-hal yang gw senangi. Wew. Does it mean gw ga cinta kerjaan gw? No passion? Entah lah. Hanya saja akhir-akhir kerjaan berasa boring dan under pressure. Lagi kurang seru!

Kerjaan, codingan, dan hidup yang berasa standar ini mengaburkan mimpi-mimpi gw. Berasa ada keraguan dimana-mana. Belum bulat. Gw hampir lupa, tulisan ini akan menjadi tulisan sampah yang kesekian. Jadi ajang curcol. Well, I hope ditulisan berikutnya bisa nulis something informative ya. Biar bisa mengalir pahala karena mengajarkan sesuatu yang bermanfaat 🙂

Rehearsal

Sesuai schedule, hari ini dilaksanakan rehearsal alias pra sidang thesis gw. Acara dimulai dari jam 2.30PM dan berakhir jam 6.30PM. 4 jam terasa hanya sebentar buat gw yang nunggu giliran presentasi. Dari 5 orang lab mate yang akan bareng lulus, gw dapat giliran ke 4. Karena giliran ke-4 ini sudah banyak melihat 3 orang lain yang “dibantai” oleh prof dengan komennya yang membangun, gw berasa ciut untuk presentasi. Tak bisa dipungkiri kalau gw dag-dig-dug nervous dalam hati. Pikiran mumet kalau kalau prof kurang sreg dengan hasil penelitian gw atau simulasinya kurang bagus atau ini itu dan hal lainnya. Keadaan diperparah dengan kekurang dari slides presentasi yang akan dipresentasikan. Beberapa hal yang sudah disadari kurang adalah kenapa gw propose thesis gw seperti itu. Nah, gawat kan kalau hal itu ga tersampaikan dengan baik. Bisa-bisa nanti juri yang denger ga paham hasil kerja dan kontribusi yang gw telah usahakan berbulan-bulan.

tesis

Presentasi gw yang cuman 11 menit mendapat feedback yang cukup membangun dari prof. Gw diminta untuk perbaiki introduction, problem statements, benerin figures, etc yang gw rasa emang perlu. Alhamdulillah ga terlalu ribet. Jadwal sidang pun berubah jadi 14 Juni 2013. Two weeks towards the freedom 🙂

Semoga semuanya dilancarkan prosesnya oleh Allah, dimudahkan jalannya, dan dikuatkan imannya. Ga sabar pengen lulus dan kerja di tempat yang baru ^_^

 

Bangkit

Banyak orang yang sudah tau apa arti bangkit? Sepaham gw, bangkit adalah suatu gerakan/aktivitas/kegiatan dari keadaan jatuh menuju keadaan tegak/berdiri. Ya, kurang lebih seperti itu. Bangkit, gampang banget ngucapinnya. Gw sebut 100x bahkan 1000x juga bisa. Gampang man! Namun, dalam kenyataannya “move-on” atau bangkit itu “lumayan”/ “agak” / “sangat” sulit tergantung dari bagaimana si pelaku bisa mengatasi pelbagai masalahnya.

Perasaan terjerembab, tidak ada pertolongan, dan kita harus bangkit dengan usaha kita sendiri. Selutuh dunia nyuruh lo bangkit juga ga akan berguna kalau dari diri sendiri ga mau melakukannya. Am I wrong? Gw sedang mengalami masa kejatuhan dan bagaimana gw bangkit adalah dengan cara menuliskan artikel ini. Gw HARUS meyakinkan diri gw sendiri bahwa gw bisa bangkit. Gw bisa berusaha. Masalah apakah pilihan yang gw ambil itu butuh waktu panjang untuk melakukannya atau sulit, itu adalah hal berikutnya. Sekarang gw harus nyari sesuatu untuk gw bisa bangkit.

Sedikit curhat, sekolah di luar negeri itu ga mudah kawan, berkali-kali gw ngasih wanti-wanti kepada junior atau kolega gw yang mau sekolah ke luar negeri. Banyak cobaan disini. Kita harus bisa berdamai dengan ego pribadi dan ego professor. Bagaimana menyocokkan frequency pribadi dan prof agar matched. Itu hal yang masih belum bisa gw lakukan sampai saat ini. Apakah gw bodoh? Gosh, nooo.. Gw ga mau sampai diri gw sendiri bilang gw bodoh. Gw hanya belum bisa menebak ritme yang dimaui oleh prof gw. Jadilah seperti ini: saat gw udah nulis publikasi ilmiah, ternyata dia dengan gampangnya bilang “It’s meaningless if you use your algorithm in that system. Try to implement in other system”. Njleb. Ini kerjaan ga seminggu dua minggu prof. Ini kerjaan berbulan-bulan dan prof baru bilang sekarang??????????????? Setelah sekian lama kita melakukan meeting-meeting dan meeting???????? Seketika hancur hati gw, menangis pun sudah tak bisa. Lemah, lunglai tak berdaya.

Dari semalam gw berpikir, salah gw kah? Salah prof kah? Salah siapa? Gw sudah ga peduli siapa yang salah. Gw harus bangkit. Gw langsung coba cari cara, ngatur strategi, dan mendata apa yang tersisa. Gw buka-buka lagi riset gw sebelumnya yang pernah gw published. Ada 1 judul lain dan 1 algorithm tadi. Keduanya gw menilai biasa-biasa saja. Ga terlalu asoi, belum lagi masih ada kemungkinan kalau algoritma yang gw propose itu gagal. Possible kan? Yeap. Waktu sisa 4 bulan dan harus submit 1 jurnal.

Semua yang ada di depan mata terasa sulit. Ditambah beberapa rekan di lab sudah terbebas dari tanggung jawab riset ini. Sebenarnya itu juga menambah “down” di hati gw. Tapi ya sudah lah, untuk apa gw memperdulikan hal tsb? Istighfar. Istighfar. Istighfar. Hal itu mendamaikan hati gw dan menjernihkan pikiran gw. Bukan kah gw masih punya Allah yang bisa membolak-balikkan hati? Bukan kah gw masih punya Allah yang mengatur semuanya? In shaa Allah, selalu ada hikmah atas apa yang terjadi. Pinter-pinter gw mengambil pelajaran aja.

Sumber foto:

Teman dan Impian

Sudah banyak cerita tentang pertemanan yang dikupas di berbagai buku, majalah, film, bahkan komik. Pertemanan memang menarik. Sebuah kata penuh makna yang bisa menjelaskan hubungan antar insan manusia. Pertemanan menjadi istimewa dikala perasaan manusia yang terlibat selalu dekat, saling berbagi, saling mengingatkan, saling menasihati, dan lain sebagainya. Tidak hanya yang baik-baik, kadang riak-riak kekesalan juga bisa terlibat di dalamnya. Namun hakikat teman sejati bukankah memang seperti itu. Tidak hanya berada saat senang, tapi saat sedih pula. Jika memang tidak saling setuju maka diungkapkan pada yang lain. Pertemanan bukan hanya sekadar selalu setuju atas apa yang dilakukan yang lain.

friend

Tulisan kali ini gw buat karena terinspirasi dari banyak teman yang tidak bisa disebutkan jumlahnya (lebay :p). Kadang teman-teman sekosan membuat joke terkait definisi pertemanan yang saya miliki. Teman, teman dekat, dan hanya kenalan. Emang gw agak aneh dalam membuat definisi pertemanan. Tidak semua orang masuk kategori teman dalam kamus gw. #ckckck.

Well, judul tulisan gw kan “Teman dan Impian”, emang gw mau bahas bagaimana peranan teman-teman lo dalam keberhasilan impian lo. Gw punya beberapa teman dekat yang biasa gw gangguin hampir tiap hari untuk mendengarkan rengekan-rengekan terkait impian gw. Tengok lah saat mau mudik ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Seabrek to-do-list sudah dibuat. Kegiatan apa aja yang harus dilakukan selama berada di Banjarmasin. Selain kegiatan pribadi dan keluarga, gw pengen bisa melakukan sharing session tentang pengalaman selama hidup di korea and how to get scholarships. Ga perlu sampe bikin seminar yang dihadiri ratusan orang, cukup 20-30 dari komunitas yang ada di Banjarmasin. Nah, temanteman gw disana lah yang gw “rengeki” untuk membantu agar apa yang gw impikan bisa tercapai. Sebut saja nyari lokasi, peserta, dan hal teknis lainnya. Ribet tuh, gw yakin. Apa yang mereka dapat? Ucapan terima kasih tentunya, kuteks dari korea, dan mungkin sedikit traktiran di coffee shop (ini mungkin sesuai budget 😛 khawatir mereka baca, ckckck). Tapi gw yakin, karena pertemanan lah kenapa mereka mau membantu gw yang ngeyel ini. Disadari atau tidak, orang-orang disekitar lo lah yang membuat lo kuat untuk tetap bertahan dengan apa yang lo cita-citakan. Trust me dah! 😀

So, gw ucapin terima kasih kepada teman-teman dimana pun berada karena telah membantu gw. My is empty without you, friends! ^_^ Mari terus saling menguatkan dan mengingatkan dalam meraih impian kita masing-masing. Gomawoooooo 🙂



mimpi

Gambar diambil dari:

 

Selalu Ada Hikmah

renunganSudah melihat dan mengamati gambar di atas? Itu gambar bukan punyaku, diambil dari foto album teman di facebook. Thanks to him. Selalu ada hikmah dari apa yang kita jalani setiap hari. Benar bukan? Agak lupa apa aku sudah pernah menceritakan hal ini atau bukan. Sebenarnya jika sekarang ditanya kenapa aku kuliah di Korea, aku akan sedikit tergagap. Apa yang kuharapkan dulu ketika pertama kali menginjakkan kaki di negeri ginseng ini memang cukup berbeda. Sebut saja salah satu penyebabnya adalah program yang sedang kujalani, tapi kalau aku melihat lebih dalam sebenarnya hal tersebut mungkin disebabkan faktor pribadi. Namun sekali lagi, selalu ada hikmah dibalik itu semua.

Tujuan. Bukan hal yang baru jika penyedia beasiswa selalu mempertanyakan apa tujuan pelamar ketika mengajukan permohonan beasiswa. Tujuan adalah hal mendasar yang harus dimiliki oleh setiap orang, terkhusus pelamar beasiswa. Mau melakukan hal apa aja, riset tentang apa, setelah lulus mau jadi apa, dan bagaimana cara mencapai tujuan tersebut. Semua itu harus jelas agar tidak kesulitan dalam menjalani proses pendidikan. Hal ini sangat kurasakan penting. Aku sadar betapa ketidakjelasan tujuan bisa berakibat batal baik dari segi akademis maupun hal lain.

Kedewasaan.  Seharusnya memang orang yang akan pergi ke luar negeri atau hidup di negara lain harus memiliki standar kedewasaan yang mumpuni. Apa levelnya? Tidak ada hal yang jelas. Sebut saja bisa mengatasi masalah sendiri, bisa membuat keputusan di saat-saat sulit, bisa berpikir kreatif, tahan banting, mental yang kuat, tidak mudah menyerah, fokus, dsb.