CV: Perkenalan

Tulisan kali ini akan membahas tentang Computer Vision (CV), bidang yang sangat luas dan dalam. Meskipun begitu, tujuan dari penulisan tutorial ini adalah mengenalkan apa itu computer vision melalui pemrograman langsung. Dari sekian banyak programming language, kenapa harus Python? Karena saya sedang belajar computer vision dan python sekaligus. Ga ada yang lebih efektif jika belajar teori sekalian praktek. Nah, karena ini membahas tentang Computer Vision maka bahasannya pun ga jauh-jauh dari Image dan Video (di sini saya akan banyak menggunakan kata-kata Bahasa Inggris supaya ga mengurangi makna aslinya. Pun saya rasa kadang penerjemahan ke Bahasa Indonesia malah membuat bingung).

Silakan baca apa itu computer vision: http://ardiwinahyu.blogspot.kr/2015/04/pengertian-computer-vision-dan.html (sekilas info saja, blog ini menyantumkan referensi wikipedia). Karena di tulisan ini saya akan lebih ke pemrograman, maka urusan teori ga akan terlalu banyak dibahas. Tapi jika dirasa perlu, akan saya jelaskan sepahamnya. Maklum, saya juga masih belajar.

Sumber referensi pemrograman: Programming Computer Vision with Python (pdf, codes, data bisa diunduh di sini http://programmingcomputervision.com)

Di sini Saya menggunakan OSX, Python 2.7,  Anaconda, Eclipse – PyDev, dan Jupyter Notebook.

Yuk, belajar bareng-bareng..

Ngaji Aja

Nasihat super simple dari junior UST yang lagi ngurusin badan dan baru mencapai timbangan 70an alias 79 kg, Taning, “Ketika berasa life crisis, ngaji aja. Tilawah gitu.” Nasihat Taning selepas balik ngerjain PR bareng di cafe. Emang semuanya bersumber dari Yang Punya. Solusi pun dari Yang Punya.

Now vs Future

Akhir-akhir bersyukur bisa dapat pemasukan lain untuk mencapai target 2016. Tapi doing business while studying itu bukan hal yang mudah. Business yang dijalanin cuman perlu duduk depan meja, ada akses internet, dan tergantung third party. Third party ini fungsinya cukup vital sehingga jika mereka tidak ada maka business yang gw usahakan akan mandek. Relatively mudah dan nyaman doing business ini. Alhamdulillah. Namun riset jadi ga konsen padahal doing riset ini untuk masa depan.

Berkaca dari beberapa senior yang bisa doing business while having publications in top journals, harusnya melakukan kedua hal ini sekaligus bisa-bisa aja. Walau pasti banyak fakto yang menentukan misalnya tingkat kecerdasan, adanya pegawai atau orang lain yang membantu, dll. Nah, buat gw pribadi, masih cukup struggle untuk bisa fokus di keduanya. Makanya sekarang coba lebih getol lagi nyari solusi bisa bisa research and part-time balance. Playing mah ga usah dibahas, hampir tiap weekend ga pernah belajar. Sampai-sampai bertanya nih, am I a PhD student? So, saran untuk diri sendiri, please be wise dalam melakukan dan memutuskan hal. Dapat duit cepet perlu tapi consider my future juga. Alhamdulillah sudah nemu research interest yang baru! Semangat!

Following Successful People

Gue orangnya emang bawel, suka ngomong kalau ketemu orang yang klop, dan diem ga jelas kalau ketemu dengan orang yang ga gitu suka atau insecure around them. Jadi pas dekat-dekat orang yang bisa gw ambil ilmunya, gw akan jadi orang super bawel nanya ini nanya itu. Nah, gw sekarang lagi ingat dengan salah seorang senior idola pas S1 dulu, namanya Kak Dewa. Beliau ini banyak jagonya. Panjang lebar kalau dijelasin. Intinya gw ingat kata-kata beliau dan apa yang beliau lakukan yaitu mencari pattern dari orang-orang sukses. Misal nih kalau mau jadi direktur Telkom, berapa lama waktu yang diperlukan, apa yang yang kira-kira diperlukan, sikap-sikap apa yang harus digali, dan lain sebagainya. Jadi emang kalau mau sukses harusnya bisa nyari apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang suskes. Gitu inti kata-kata beliau.

Tanggal 6 September 2015 diselenggarakan CISAK 2015. Keynote speakers yang hadir ada 2: Prof. Josaphat Tetuko dari Chiba University, Japan dan Bu Risma walikota Surabaya. Keduanya inspiratif dengan cara yang berbeda. Prof. Josh orangnya humble banget. Seriously, gw ga nyangka kalau beliau orangnya asik. Bayangan gw tuh ya professor-professor gitu orang yang kaku dan formal. Ternyata beliau beda banget. Pesan moral  yang beliau sampaikan bisa ditangkap dengan mudah oleh orang awam. Terus waktu lain adalah beliau ngomong pake bukti! Yes, bukti kalau beliau indeed very smart. Jago! Hasil karyanya banyak banget dipakai oleh Jepang atau negara lain. Sedangkan Bu Risma, seorang walikota yang jauh dari perpolitikan karena karir beliau memang dari PNS murni. Beliau ini membangun Surabaya kayak pakai magic. Apa rahasianya ya? Sebenarnya gw penasaran untuk membedah bagaimana leadership yang beliau lakukan, bagaimana metodenya, bagaimana warga Surabaya, bagaimana bawahan-bawahan beliau, bagaimana PNS di Surabaya, bagaimana hubungan dengan pihak kampus, dll. Banyak seabrek. Pengen rasanya menggali apa yang ada di kepala beliau sehingga bisa jadi pelajaran jika nanti, let’s say, gw jadi walikota Banjarmasin :p hehe

Nah, sekarang mau ngikutin yang mana? Jadi kayak Elon Musk yang bikin perusahaan super canggih, kayak Prof. Josh yang ilmuwan, dan Bu Risma yang bergelut di pemerintahan? Apa bisa fusion semuanya??

Twenty Seven 

Inspired by Twenty Six by Nathan Bashaw. Many sentences are copied from it. I wrote this on August 17, 2015 to celebrate my birthday.

Today I turn 27. I am not leaving my job (the writer of original article was leaving his job); I am a PhD student, involved in a project that is basically not related to my background, and has been tried studying my research idea since April. I am totally trapped in this environment intentionally, for good and bad reasons.

If there are bad things and something that I don’t like, why am I doing it though?

It has been 6 months after my official status as research student. I clearly remember the moment when I applied for this program and submitted my documents. A friend of mine helped me to submit required documents to the university. Well, I almost couldn’t make it. I was very excited and nervous. At that time, I was working at a small company in the same city as my university. It was good experience working in this small company, my boss and colleagues are kind and nice. *Don’t make them bad in this online and social life* I like my job but I need to leave this company to pursue my dream. Yes, I need PhD degree and I like doing research. Somehow this “I like doing research” makes me laugh. Do I really like doing research? I do and I don’t. Nobody loves something in every second of his life, right? For example I like eating chicken, do I eat chicken every single meal? Nope. That’s my point.

Deciding to enroll to university is not a money solution although my scholarship is way better than common universities in Korea. So it is merely about my life goal to become a PhD holder. There was another process after submitting document: interview. When I went through an online interview, I was very excited. I gave a big shot for it. And when I got accepted, it was one of the happiest moments of my life. I made it. Get accepted to university that I want. After that, I quit my job, went to short trip to Cebu, Manila, and Singapore, and went to beloved home country for two weeks. I did these activities before entering the new jungle, PhD life, to help me preparing my mentality. Then, the real battle came. I entered this university, campus, and lab. My professor is a nice person. Really. Let’s skip detail information about lab, campus, and my professor. That’s a short story of my life.

So this twenty-seven-years-old is the condition where I feel anxious. Project is just started and not really related to my background, research is somehow stagnant, so I need another thing to make me alive. I know my main job is doing project and research but the are many things sticked around my head needed to solve. And one of them is this project “Baju Bekas”. Couple days ago, a friend of mine asked my opinion about sending Baju Bekas from Korea to Indonesia. Yes, sometimes I have problem about this baju bekas. I don’t know where I should throw my unused clothes. Sometimes I just put it in trash bag together with others. It’s bad, I think it is not a proper way. So, from point of view of the idea, it’s a good, indeed. However, it requires high cost in delivery fee from Korea to Indonesia. After long discussion, I came up with an idea to solve this delivery fee problem but somehow it doesn’t really fit. This is the flow:

  1. Collect “baju bekas” from people in Korea (students or workers)
  2. Put this baju bekas on Instagram or Facebook
  3. Ask other people in Indonesia/Korea to donate money for delivery fee. Why? Because I want more people to get involved in this project
  4. Send all baju bekas via cargo. It takes several weeks or a month

My friend told me that he has relatives who can receive this packet and distribute baju bekas to needed people. So, I don’t worry about recipient. For financial transparency, whole transaction will be posted online. We need to be clear about it because it’s part of trust. What I can do is building trust between project owner and donatur.

Does this sound interesting to you? Here’s how you can get involved:

  1. Are you willing to give feedback or better solution to handle this problem? I would appreciate that a lot! Leave comments on this article.
  2. Are you interested in collaborating on this in any way? This is a great time for me to work with new people, so let’s talk! Hit me up on FB: here. Kakoa talk:@thomhert
  3. Are you blogger or web developer or web designer? You are needed in this project. A simple yet informative website is greatly helping this project.
  4.  Also, I’d love to just catch up and bounce ideas around. I’m a big believer in talking with people from all backgrounds to see how they react. You learn something different from everyone. So if you want to just talk, I would love that! Even if we’ve never met.

I appreciate people who want to work on this together. I know I’m not in this alone. Thank you for all your help!

Wish me luck!

TOPIK 1 level 2

Alhamdulillaah tanggal 13 Agustus 2015 lalu pengumuman tes Topik di topik.go.kr dinyatakan lulus level 2 dengan score listening 88 dan reading 76, total 164. Jadi topik ini adalah Korean Language Proficiency Test. Setelah 4 tahun tinggal di Korea akhirnya bisa dapat certification juga. Ya walau pun baru level 2. Minimal syarat untuk wisuda di universitas udah lewat :p hehe Moga-moga dalam 6 bulan ke depan bisa dapat level 3. Semangat!
topikscore