Finally Accepted

Yeay yeay yeay.. Cerita kelam disini berakhir bahagia. My journal has been accepted. It means to be published soon. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Setelah perjuangan selama 10 bulan, akhirnya jurnal siap terbit. Bukan hanya proses yang panjang tapi juga berliku. Terima kasih atas segala do’a dari para readers. Semoga barakah. Menjadi pemberat amal kelak.

Advertisements

Fatal Jiddan

Fatal bin bodoh. Yes. Gw baru dapat telpon cinta semalam dari babeh kuliah S2 dulu. Bahas tentang jurnal gw yang ga ada kabar. Hidung gw memanjang pas jawab telpon. Ga suka diuber, tapi emang kali ini gw yang salah. Bahkan salah besar. Surel dari komitenya gw terima dua bulan lalu dan gw baca dengan ga teliti. Dalam pikiran dan pendapat gw, jurnal gw ditolak. Dah mau nangis padahal pas itu. Kecewa berat. Jadilah gw ga ngecek sistem online untuk submissionnya. Dari sinilah petaka melanda. Saking sibuknya gw Desember-Januari, begadang dan lembur non-stop, gw dah ga care tentang surel ini. Apa susahnya sih thom ngecek sistem submissionnya? Apa susahnya ngebaca comments dari reviewers? Apa susahnya meneruskan isi surel ke babeh disana? Apa susahnya??

Semalam dapat telpon cinta. Suruh update status jurnal. Gw ubek-ubek lah email. There is none. Ga ada email yang dulu. Terus apa gw salah baca? Kan sudah ditolak? Kok ga ada email? Percobaan selanjutnya adalah login systemnya. Gosh. Gw lupa username dan passwordnya. Gw biasanya pake 2 email: gmail dan kampus dulu. Setelah dicoba-coba, akhirnya gw berhasil login. Petaka selanjutnya adalah ternyata jurnal gw ga ditolak tapi suruh revisi. Hell yeah. But, deadline sudah lewat, dua bulan malah. Akk. Apa dikata ini. Kesalahan yang fatal.

Akhirnya gw kontek babeh lewat skype, diskusi bentar, suruh kirim comments yang ada. Ga usah bilang semua hal terkait ini. Simpan informasi sendiri dan bagilah seperlunya. Baca-baca ulang commentsnya, mikir apa yang harus diperbaiki karena gw udah lupa beberapa teorinya. Hahay. Padahal gw sendiri lah yang bikin itu teori. Hampir panik gw dibuatnya, kok ada table constellation yang kurang tepat. Ternyata gw hanya amnesia sementara. Setelah dihitung-hitung, ga ada kesalahan. Alhamdulillah. Lanjut perbaiki here and there. Response comments dari reviewers. Done. Re-submit.

Hal berikutnya yang harus diselesaikan adalah permintaan maaf ke editornya. Akk. Gw melakukan kesalahan fatal dan harus mengakuinya serta minta maaf sambil meminta diberikan kesempatan lain. Greedy? Ga kan? Gw udah email, dan tengkyu ke Ninuk dan Tina yang ngasih saran dan bantuan redaksional emailnya. Setelah dipoles-poles, akhirnya bisa terkirim. Sekarang tinggal berdo’a nunggu hasilnya. FYI, it takes several months untuk bisa diterima. I went 10 months to reach this state. Ngeri kan? Kebanyang kan betapa bodohnya gw karena melewatkan email begitu saja? Please pray for me.

Kuliah di Korea itu…

Sehubungan dengan banyaknya bukaan beasiswa di kampus-kampus korea, tiba-tiba gw ingat cerita indah kenapa gw mengambil S2 dan terdampar di Korea. Saat ini banyak orang yang menginginkan kuliah di luar negeri. Dulu gw pun begitu. Mungkin 3-4 tahun lalu, semangat kuliah di luar negeri begitu menggebu-gebu. Sampai-sampai orang tua gw menyarankan gw ngambil ITB aja kalau ga dapat beasiswa di luar negeri. Saking kasiannya ngeliat anaknya pengen sekolah S2. Hahay.

Ternyata kuliah di luar negeri itu ga senang-senang amat tapi juga ga sedih-sedih amat. Depends on negara mana dan gimana sistem perkuliahannya. Di Korea, kebanyakan mahasiswa S2/S3 nya bdang teknik alias engineering. Kerjaan orang teknik  itu jelas: riset di lab. Kalau anak S2/S3 ga nge-lab, rasanya kayak sayur tanpa garam, kurang sedap. Eiits, jangan salah. Sedap disini bukan berarti enak, justru di lab lah nasib kita ditentukan oleh juragan lab. Juragan lab adalah p-r-o-f-e-s-s-o-r. Juragan memegang peranan penting bagaimana kehidupan perkuliahan berlangsung. Apakah akan aman dan lancar selancar jalan tol atau kah sebaliknya, seperti jalanan berlubang dan bergelombang serta penuh paku dan duri.

Pengalaman gw dengan juragan ini cukup berkesan. Mudah juga enggak, sulit juga enggak. Juragan gw orangnya bawel tapi baik tapi pelit tapi rajin tapi matre tapi jago tapi ga fokus. Banyak tapinya. Cuman do’i (ciye do’i) seru kok. Kadang gw salut tapi juga kadang  jengkel kalau menyangkut tentang uang. Hati-hati lah dengan juragan-juragan ini, para mahasiswa bisa diperbudak oleh mereka. Untungnya juragan gw ga kejam. Gw inget pertama kali sampai di Gumi, juragan lah yang menjemput dengan mobil pribadinya lalu diantar ke ruangan lab. Gw dan tiga orang t eman gw adalah mahasiswa asing pertamanya. Maka bisa dikira, kami memiliki semangat yang sama dalam membangun lab. Bekerja sama untuk mengembangkan peradaban. Gw yang polos dan lugu belum menangkap sinyal jahat disini. Ternyata jelas, juragan akan baik karena kami adalah pegawai dan penghasil uang yang lumayan untuk lab. Awal-awal perkuliahan, gw begitu serius. Bayangkan saja, lab meeting itu seminggu 2 kali, Monday and Friday. Monday untuk riset, Friday untuk proyek. Lha kapan gw bisa jalan-jalan? Ga ada. Akhirnya gw jadi mahasiswa miskin dan melarat yang bolak-balik kosan-lab.

Seiring berjalannya waktu, sifat asli dari juragan pun ketahuan, baik dan buruknya. Gw pun beradaptasi dengan cukup cepat. Bahkan juragan kadang gw kibulin dengan intrik-intrik khusus. Haha. *nakal* Tapi ga parah kok, gw cuman beberapa kali kabur dari lab untuk jalan-jalan atau gw ga bikin presentasi dengan baik yang akhirnya dimarahi di depan kelas. Gw rada-rada ga tahu malu sih kayaknya. Mental kuda. Juragan gw kan masih muda, jadi pengalamannya dalam membimbing pun masih amatir. Keadaan jadi membaik ketika di tahun kedua ada anak baru berdatangan. Yes, juragan ada mainan baru. Tapi ternyata eh ternyata, mereka ga disiksa seperti gw dan 3 teman gw dulu. Hal ini disebabkan ada cewek-cewek yang bergabung di lab. Ternyata watak pria sama saja, lemah terhadap wanita. Termasuk juragan gw.

Dua tahun mengenyam pendidikan master di lab dengan lingkungan yang cukup heterogen, membuat gw lebih tau apa artinya kehidupan, kesulitan, tantangan, dan masa depan. Walaupun sampai sekarang galau gw ga hilang-hilang. Saran gw sebagai orang yang lebih dulu datang ke Korea, waspada lah sebelum datang, lihat tawaran beasiswanya dan juragannya, tanya kolega yang ada di Korea tentang hal tsb supaya ga ada penyesalan di belakang. So, pertanyaannya, jadi gw menyesal nih? Haha. No comment dah.

Thesis Defense

Alhamdulillah.. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Saya sudah sidang pada hari Jum’at, 14 Juni 2013 sekitar jam 4PM di D119. Sidangnya cuman 10 menit 🙂

Defense

Terima kasih ya Allah atas semua nikmatMu yang tak pernah terhitung jumlahnya.

Terima kasih kepada kedua orang tua yang telah berjuang keras mendukung pendidikanku.

Kepada Mama yang tak pernah henti-hentinya mendo’akanku siang dan malam, yang selalu khawatir kalau telat makan, yang menangis kalau aku ga enak badan, yang selalu ga pernah mau ganggu kalau aku lagi sibuk, yang selalu sabar dengan semua yang dialami.. Terima kasih ma.

Kepada Papi yang telah bekerja keras sebagai kepala keluarga. Tanpamu, aku ga bakal bisa sekolah.

Kepada kakak, yang gw sebagai adik kurang berbakti.

Kepada adik, yang mulai dari SMA ga pernah tinggal bareng gw karena kakak sekolah di luar kota, yang selalu kakak marahin kalau ga bisa ngerjain PR.

Kepada teman-teman di lab: Fadil, Wicak, Eddy, dan Hamka yang dari awal berjuang bersama. Masih ingat gw, pas awal-awal ketemu di bandara. You are all everything disini. Siapa yang bisa gw minta tolongin kalau bukan kalian. Kepada Toha, sorry ya aku lulus duluan 😛  Isnan, Ika, Ifa, all korean yang ga pernah ngomel kalau gw orangnya ga asik 😆

Kepada teman-teman Agi, Tyo, Mas Fav. Maaf kalau gw banyak salah ya. 2 tahun disini sungguh berkesan.

Kepada babeh prof. Naga, makasih atas undangan belajarnya. Semuanya sunggu berkesan, suka duka, senang bahagia, all memories ga akan terlupa.

Kepada teman-teman gw di Indonesia: Ninuk dan Tante Tina, 2 orang yang selalu bisa gw repotkan kapan saja. Fahmi, walaupun jarang ngobrol, tapi ini orang selalu menyemangati. Kita akan sukses! Mbak Risna, orang yang selalu ngedengerin gw cerita dan ngasih support. Makasih mbak. Selamat atas menempuh hidup baru ya! Sorry aku ga bisa datang 🙂 Fachrie, Raly, Anwar, Ulik, Edi, Fajar, Pipin, dll group uye2 house, makasih ya atas do’anya.  Ita, yang udah bantuin meringankan beban saat-saat menjelang thesis. Makasih ta, sukses juga ya!

Kepada saudara-saudara seperjuangan di Korea Bang AS, AT, AN, MHA. Jazakumullah khairan katsiran atas do’a antum ya. Semoga Allah merekatkan hati-hati kita dalam perjuangan ini.

Kepada semua orang yang ga bisa gw sebutkan namanya, makasih atas do’a dan dukungannya. Terima kasih. Terima kasih. Semoga ilmu dan gelar yang didapat bisa bermanfaat untuk diri sendiri, masyarakat, bangsa, negara, dan agama.

Saatnya bertarung di medan perang selanjutnya! I am comiiiiiing world! 😀

“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al Insyirah: 7)

H-1

7.28PM – dugeun dugeun dugeun..

– PPT – done

– Tie – done

– Suit – done

– formal shoes – done

– thesis document  – done

– Socks – done

– Formal shirt – not yet

– Snacks and beverage – done

Well, kurang dari 24 jam lagi sidang. Wish me luck. Besok pagi call juries pagi-pagi sebagai reminder ^______________^

Rehearsal

Sesuai schedule, hari ini dilaksanakan rehearsal alias pra sidang thesis gw. Acara dimulai dari jam 2.30PM dan berakhir jam 6.30PM. 4 jam terasa hanya sebentar buat gw yang nunggu giliran presentasi. Dari 5 orang lab mate yang akan bareng lulus, gw dapat giliran ke 4. Karena giliran ke-4 ini sudah banyak melihat 3 orang lain yang “dibantai” oleh prof dengan komennya yang membangun, gw berasa ciut untuk presentasi. Tak bisa dipungkiri kalau gw dag-dig-dug nervous dalam hati. Pikiran mumet kalau kalau prof kurang sreg dengan hasil penelitian gw atau simulasinya kurang bagus atau ini itu dan hal lainnya. Keadaan diperparah dengan kekurang dari slides presentasi yang akan dipresentasikan. Beberapa hal yang sudah disadari kurang adalah kenapa gw propose thesis gw seperti itu. Nah, gawat kan kalau hal itu ga tersampaikan dengan baik. Bisa-bisa nanti juri yang denger ga paham hasil kerja dan kontribusi yang gw telah usahakan berbulan-bulan.

tesis

Presentasi gw yang cuman 11 menit mendapat feedback yang cukup membangun dari prof. Gw diminta untuk perbaiki introduction, problem statements, benerin figures, etc yang gw rasa emang perlu. Alhamdulillah ga terlalu ribet. Jadwal sidang pun berubah jadi 14 Juni 2013. Two weeks towards the freedom 🙂

Semoga semuanya dilancarkan prosesnya oleh Allah, dimudahkan jalannya, dan dikuatkan imannya. Ga sabar pengen lulus dan kerja di tempat yang baru ^_^