Reading Project

Pernah dengar info tentang program baca buku dalam setahun oleh Mark Zuckerberg? Mark yang punya Facebook itu lho.. Pernah ga? Kalau belum coba cari di facebook search “A Year of Books” pasti nemu dah. Judul bukunya ada banyak, tinggal pilih. Nah, programnya Kak Mark ini sangat inspiratif. Sampai-sampai gw berniat membuat project yang sama. Bulan Januari lalu 2 buku dibaca walau ada 1 yang belum habis. 1 buku bertema tentang pernikahan, 1 buku lagi novel tentang kriminal.

Berhubung bentar lagi insyaAllah gw mau get married, persiapan baca buku pun harus diperbanyak. Minggu lalu kalap langsung beli 3 buku. English written book. Agak lupa judulnya. Kira-kira gini: The One Thing, The Innovators, and The Checklist Manifesto. Tipe-tipe buku gw ya gitu.

InsyaAllah mau pelan-pelan mulai program tamatin 1 buku dalam sebulan. Terus kudu khatam Al-Qur’an juga dalam sebulan. Harus diingat-ingat sekarang kalau udah berkeluarga harus makin dekat dengan pencipta, harus makin rajin ibadah. *mulai melenceng dari tema*

Anyway, lets see how many books I read this year! 

Orang Hidup Yang Sudah Mati (Repost)

Original post di sini oleh Kevin Pardede. Artikel yang sedang sesuai dengan pikiran saat ini. Tentang studi yang tak berkesudahan.

Bagi Paul Erdős, seseorang yang sudah berhenti mengerjakan matematika sudah mati. Aku menyetujui hal itu, tapi umum takkan begitu saja menerimanya. Disinilah perlunya generalisasi, matematika sebagai hobi, sehingga seseorang yang sudah berhenti melakukan hobinya sudah mati. Badannya hidup tapi jiwanya sebenarnya jiwanya sudah mati ditelan bumi.Aku kadang berpikir,sebenarnya siapa yang lebih bermain raut muka, orang yang bertanya “rencana kuliah dimana ?” kepadaku, atau aku yang menjawab “FMIPA” dengan cepat namun ragu , mengantisipasi raut muka aneh yang disembunyikan penanya. Berikut adalah alasan raut muka tersebut :

1. Skill/kemampuan yang dimiliki tidak berguna dalam kehidupan sehari-hari
2. Penghasilan rendah
3. Prospek kerja buram (lawan kata cerah)
4. Ilmu murni terlalu mudah
5. Sangat sedikit yang berhasil

Walaupun hampir tidak mungkin, saya akan mencoba memaparkan argumen berikut se-objektif mungkin.Berurut.
Begini, fmipa adalah fakultas ilmu murni. Sesuai namanya, mahasiswa prodi ini akan mempelajari ilmu alam pada level fundamental/murni/teoritis dimana mahasiswa dituntut untuk bertanya bagaimana? , mengapa ? bukan apa ? atau untuk apa?. Mereka mengabdikan kehidupan mereka pada ilmu , mencoba memecahkan misteri alam. Eksentrik yang melekat bagi orang-orang seperti ini hanyalah manifestasi berlebihan publik terhadap gairah dan kecintaan mereka terhadap sains.Anggap saja mereka pemimpi, karena anda juga hanya khayalan.

(1)Menurutku, fisikawan seperti pemasok/pembuat senjata kepada tentara yang akan berperang. Orang dibalik layar, namun sebenarnya pembunuh sejati. Ada kalanya pekerjaan lebih efektif jika dibagi, tentara tidak sibuk memikirkan senjata apa yang akan dibuatnya. Ia cukup tahu senjata sudah ada ditangannya, ia tahu cara standar menggunakannya, medan perang menuntutnya lebih, improvisasi (pembuat senjata tidak membuat gagang depan ak-47 untuk menghantam kepala musuh). Sedangkan pembuat tidak perlu ikut berperang, ikut cukup memastikan senjata nya bekerja.

(2)Judul terpenuhi. Aku tidak mau jadi hamba uang. Kita hidup di sebuah planet diantara sekian banyak planet, di sebuah galaksi diantara sekian banyak galaksi. Ya, anda dan uang anda berarti. Sebagaimana kuatnya pun seorang manusia fana berusaha meraih kegilaan berupa kesuksesan, laut akan menderita lemparan sebiji pasir, hilang sekejap dalam kehampaan, ironis sebelum memberikan pengaruh.

(3)Buatlah hobimu sebagai pekerjaanmu, sehingga kamu tidak perlu bekerja seharipun dalam hidupmu. Setelah pengakuan ilahi, kasih sayang keluarga, ini yang ketiga. Anda tidak perlu berlibur, kerjamu adalah hobimu, melakukan hobi berarti berlibur. Tak juga penting berjalan-jalan, dengan kekuatan penetrasi, berkah Tuhan kepada otak manusia, benda ini mampu berimajinasi, membawamu menelusuri wadah makhluk hidup, alam semesta.

(4)Yang aku tahu, dan yang aku alami pelajaran SMA hanya membuatmu merasa pintar, dengan mampu lulus ujian, ujian dan ujian. Semua dimudahkan, aspek-aspek menantang dan menyenangkan dihilangkan demi test, test dan test. Aku sempat berpikir bahwa guru bimbel adalah pahlawan. Karena mereka telah berkorban, membuat dosa dengan menghalalkan segala pengabaian terhadap esensi sains itu, demi lulus, lulus, dan lulus. Hati-hati, aku tidak akan heran jika aku mendengar lagi keluhan dari mahasiswa tingkat awal yang tidak menyangka momentum anguler bisa dibuat sangat sulit.

(5)Satu-satunya kebebasan yang dimiliki manusia adalah kebebasan untuk memilih apa yang benar menurutnya. Aku bukanlah orang yang mempunyai bakat yang sangat istimewa didalam matematika dan fisika (prasyarat ilmuwan), tapi aku punya bentuk pseudo dari hal diatas , sifat . Jika pada suatu momen dalam hidupku dimana aku gagal dan tidak bisa kembali ke awal lagi, aku tidak akan menyesal. Aku lebih menyesal jika tak pernah memilih jalan hidup ini. Walau nanti aku bertemu kawan karibku bernama kegagalan, aku yakin bisa berkontribusi . Karena aku manusia yang hidup sepenuhnya. Kevin, sebagai masa transisi pengangguran dan mahasiswa.

Why I Suggest McDonald’s When My Employees Can’t Decide Where To Get Lunch

Here we go, I posted an article for reminding me how good it is. And I want to share it with you guys.As always, I keep the original title and content without changing anything. Credits to writer and businessinsider.com

==========================================================

I use a trick with co-workers when we’re trying to decide where to eat for lunch and no one has any ideas. I recommend McDonald’s.
An interesting thing happens. Everyone unanimously agrees that we can’t possibly go to McDonald’s, and better lunch suggestions emerge. Magic!

It’s as if we’ve broken the ice with the worst possible idea, and now that the discussion has started, people suddenly get very creative. I call it the McDonald’s Theory: people are inspired to come up with good ideas to ward off bad ones.

This is a technique I use a lot at work. Projects start in different ways. Sometimes you’re handed a formal brief. Sometimes you hear a rumor that something might be coming so you start thinking about it early. Other times you’ve been playing with an idea for months or years before sharing with your team. There’s no defined process for all creative work, but I’ve come to believe that all creative endeavors share one thing: the second step is easier than the first. Always.

Anne Lamott advocates “shitty first drafts,” Nike tells us to “Just Do It,” and I recommend McDonald’s just to get people so grossed out they come up with a better idea. It’s all the same thing. Lamott, Nike, and McDonald’s Theory are all saying that the first step isn’t as hard as we make it out to be. Once I got an email from Steve Jobs, and it was just one word: “Go!” Exactly. Dive in. Do. Stop over-thinking it.

The next time you have an idea rolling around in your head, find the courage to quiet your inner critic just long enough to get a piece of paper and a pen, then just start sketching it. “But I don’t have a long time for this!” you might think. Or, “The idea is probably stupid,” or, “Maybe I’ll go online and click around for —”

No. Shut up. Stop sabotaging yourself.

The same goes for groups of people at work. The next time a project is being discussed in its early stages, grab a marker, go to the board, and throw something up there. The idea will probably be stupid, but that’s good! McDonald’s Theory teaches us that it will trigger the group into action.

It takes a crazy kind of courage, of focus, of foolhardy perseverance to quiet all those doubts long enough to move forward. But it’s possible, you just have to start. Bust down that first barrier and just get things on the page. It’s not the kind of thing you can do in your head, you have to write something, sketch something, do something, and then revise off it.

Not sure how to start? Sketch a few shapes, then label them. Say, “This is probably crazy, but what if we …” and try to make your sketch fit the problem you’re trying to solve. Like a magic spell, the moment you put the stuff on the board, something incredible will happen. The room will see your ideas, will offer their own, will revise your thinking, and by the end of 15 minutes, 30 minutes, an hour, you’ll have made progress.

That’s how it’s done.

Source:https://medium.com/@ienjoy/mcdonalds-theory-9216e1c9da7d#ixzz3AtAh6LH7

Another Hope for 2015: Visit Istanbul

Baru setengah tahun di 2014, udah ada aja rencana di 2015. Yes, yes, yes. Gw setting target pengen ke Turkey (terutama Istanbul dan Cappadocia).

Istanbul2Liat-liat gambar kota Istanbul di internet aja sudah nyengir dan bahagia. Gimana kalau bisa liat beneran ya? Sebenarnya kalau dengan pasangan bisa lebih romantis dah ya. Namun Istanbul ini ga terlarang buat tujuan traveling saat masih single. Bahkan solo traveling pun gw rela, saking ngebetnya. Seriously, Istanbul tuh vibesnya keren banget. Mulai dari nuansa Eropa-Asia, West-East, terus sejarahnya juga luar biasanya. Nanti deh gw tulis kenapa Istanbul must be in our list kalau traveling. Sekarang liat gambar magic ini dulu.

istanbul1