Untuk Dia (1)

Sudah empat tahun aku tak melihat wajahnya bahkan tak mendengar suaranya. Tak pernah kubayangkan jika sudah selama ini aku dan dia tak berkomunikasi. Tak pernah saling sapa, tak pernah berhubungan. Teknologi yang canggih pun tak mampu menolong kami. Karena memang aku tak tahu kabarnya, dan dia pun tak pernah menghubungiku. Bukan karena tak ingin mengontaknya, tapi mungkin keadaan yang memaksa ini semua terjadi.

Aku sebenarnya rindu tapi kami tak bisa bertemu. Hanya kumpulan memori yang bisa kupanggil ketika aku rindu. Belaian hangatnya, perhatiannya, kata-katanya, bahkan marahnya. Semua menjadi berarti saat ini. Aku ingat dulu ketika sakit, dia selalu menelponku, mengingatkan untuk makan obat, bertanya bagaimana keadaanku, sudah sehat atau belum. Padahal sakitku tak begitu parah. Ketika tak punya uang di kampung orang, dia tak pernah mengeluh mengirimiku uang setiap minggu. Uang sakuku tak pernah berbatas, ia selalu berusaha memenuhi semua kebutuhanku. Pikirnya pendidikanku adalah yang terpenting. “Umur 30 harus bisa jadi doktor”, ujarnya. Aku sungguh ingat kata-kata itu. “Beli aja raket tenisnya, para bos kan main tenis”, sebutnya ketika aku minta dibelikan raket tenis. Mimpinya adalah menjadikanku sukses. Ia tahu pendidikan lah yang bisa menjadikanku sukses. Karena ia pernah mengalami hal-hal pahit dalam hidupnya. Masa kecilnya dipenuhi perjuangan dari hari ke hari. Keluarganya memang bukan orang kaya raya.

#bersambung

Advertisements

One thought on “Untuk Dia (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s