Cerita siang ini

Gue sedang menatap secangkir kopi yang baru diseduh. Hot Americano. Uapnya masih mengepul kesana kemari. Ini kopi kedua di hari ini. Kebiasaan yang gue lakukan setelah makan siang adalah minum kopi. Sayangnya pikiran gue lagi ga focus ke rasa kopinya. Mata emang melihat lekat-lekat kopi di cangkirnya beserta uapnya, tapi pikiran gue sedang melayang ke antah berantah.

“My best friend is getting married tomorrow. I am happy and sad at the same time.”

Kata-kata itu terus terdengar di telinga, seakan-akan ada orang yang ga berhenti mengucapkannya. Fiuhhh.. Lalu cangkirnya gue taruh, gue ambil hape dan mengetikkan kalimat tersebut ke kakao talk.

“My best friend is getting married tomorrow. I am happy and sad at the same time.” But I add more, “I am such a weak heart person”. Tapi kalimat tersebut ga gue kirim. Hanya gue ketik tanpa menekan enter. Lalu gue hapus satu per satu tiap huruf sampai tidak ada lagi huruf yang tersisa di layar hape.

Kembali gue hirup kopi yang sudah tidak panas. Rasanya masih tetap sama. Memberikan bantuan kesadaran sepersekian detik sebelum gue kembali terjerembab dalam perasaan useless nan meaningless saat ini.

I grab my phone again. Typing the same sentence: “My best friend is getting married tomorrow. I am happy and sad at the same time.” Sama seperti sebelumnya, gue ga menekan enter. Gue hanya memandang layar hape yang jernih sambil membayangkan apa reaksi dari orang yang gue kirimi chat. Apakah gue akan mendapatkan balasan yang gue harapkan, apakah akan didiamkan saja, atau apa? Gue tau ini adalah hal yang sangat ga guna ketika menebak-nebak reaksi orang lain di ujung sana. Tapi apa boleh buat, gue ga cukup berani untuk sharing info ini. Gue ga mau dianggap a cried baby. Bener-bener hal yang menyita energy. And I knew it.

Srrupp. Rasa Americano kembali mewarnai tenggorokan.

Sepertinya type and erase chatting ini harus segera dihentikan. Gue ga mau terlalu berlarut-larut dalam permainan pikiran macam ini. Gue ambil hape, gue type “Besok hari-H ya, semoga lancar acaranya.” Enter. I sent it to my best friend, a groom-soon-to-be instead of another one. Lain kali, lain waktu, di lain kesempatan, gue akan langsung bercerita tentang pikiran hari ini. My best friend is getting married tomorrow. I am happy for him.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s