I am here. Bismillaah. Head to Manila. – at 김해국제공항 국제선 (PUS – Gimhae Int’l Airport)

See on Path

Advertisements

Uneasy Choice

People say it is hard to choose between two conditions but it is even harder if these two choices are good. Right now, I am facing a condition where I have already decided my choice but still wavering to another one. Yeah. I know it is bad. I am such an unfaithful person, but is it wrong to feel greedy at this time? Have you ever in this situation? To tell you more about this: One is pursuing my PhD degree. Another is to keep working my job now.

Taking a PhD is not an easy job. And it becomes my main reason. It requires hard working, much effort, time, money, and anything of my life *exaggerating* I have read on many articles about PhD life. It is such a nightmare. Not all people can endure the difficulties but not a few people also can pass the hardness. On the other hand, keeping my job right now is a way to increase professionalism. One of big companies in Korea is interested in one of my company works which is one-year project I did last year. It will be big!, my manager told me. Our work finally will result in huge money. However, a wavering thing is not only about money, but also about expertise. Who is the most “ahli” in this project theme? Me. It is ME. If I continue my work, I will be more expert in this field. My expertise will be improved. And how if leave this company? There will be nobody understand it as good as me.

After thinking it many times, I decide taking my PhD. It is already too late taking it back. Registering to university, issuing student ID number,  preparing for orientation, purchasing round-trip ticket for visiting home country before study, and so on, there are just too much things I need to cancel if I keep my job now. Or, it is not too late to put all the things to the right place like just keep my job, postpone my trip to next semester, finding another scholarship next year? One thing to be sure is any choice resulting consequences. Whatever I choose, I can’t take it back, I can’t undo it. Whatever I choose, go straight with it without looking back.

Update (again)

YEAH. It’s me again dengan cerita “malas nulis tapi kudu tetap update”. Many things I should write but I didn’t do it. Why? Yes, I am just toooo lazy doing it. YEAH. Jadi kali ini gw mau nulis apa yang seharusnya gw tulis.

Satu, harusnya gw nulis tentang review Macbook Pro yang gw beli bulan September lalu. Dua, tulisan berikutnya adalah tentang PhD application process mulai dari submit application, interview, and final acceptance. Everything was great, I should share my experience even though nobody reads it *sounds pitiful*. Tiga, cerita tentang how I told my boss that I want to resign. Empat, my project: Bluetooth Low Energy thingy. A project that I really want to do but I need to move on, right? right? Lima, review dan sharing hasil jepretan kamera baru mirrorless Sony A5000. Kamera pertama yang agak serius setelah kamera digital yang dibeli tahun 2009. Enam, cerita rencana trip ke Cebu dan Singapore. Duh, trip ini berasa malas karena sendiri, seru karena dah lama ga jalan. Campur-campur kayak bibimbab. Tuh, ini aja ada enam. Belum lagi yang lupa dan yang akan segera datang. Terlalu banyak hal yang bisa diceritakan. Tujuan gw menulis selain emang kalau bisa bermanfaat dari yang baca, juga buat kenangan pribadi. Gw sadar walau otak buatan Allaah ini super canggih tapi gw sebagai manusia suka lupa jadinya perlu ditulis biar bisa membantu mengingat yang telah berlalu. Dari enam ini, apa yang harus gw tulis duluan? Cerita PhD application process? Macbook Pro karena pertama kali pake OSX yang ternyata cukup unik? Well, daripada bingung, mending makan kue cheese cake! Hahaha 😆

2015/01/img_5954.jpg

2015/01/img_5955.jpg

Article: Do’a

Dapat nasihat di group WA. Semoga pahala kebaikan mengalir kepada pembuatnya.

Mari periksa lagi doa kita…

Suatu hari Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa sallam mendengar seseorang berdo’a:
“Ya Allah berikanlah hamba kesabaran !”.
Mendengar hal tersebut Baginda Rasuulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa sallam langsung menegur dengan sabdanya:
“Engkau telah meminta bencana, alangkah lebih baiknya mohonlah kepada Allah ‘Afiat (kesejahteraan” (H.R. At-Turmudzi). Muthraf bin Abdullah berkata: “Diberikan kesejahteraan lalu aku bersyukur lebih aku sukai, daripada aku diberi bencana lalu aku bersabar, sebab posisi kesejahteraan itu lebih dekat kepada keselamatan. Karena itulah aku memilih syukur daripada sabar, sebab sabar itu keadaan orang-orang yang kena bencana”.

Atau berdo’a seperti ini…
Diriwayatkan bahwa Rasuulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam suatu saat pernah mengunjungi seorang lelaki Muslim yang sedang sakit, orang itu dalam keadaan kurus dan lemah tak berdaya bagaikan anak burung yang baru ditetaskan.
Melihat hal demikian, lalu Baginda Rasuulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: “Apakah waktu dulu engkau pernah berdo’a memohon kepada Allah dengan sesuatu do’a atau meminta sesuatu kepada-Nya ?”
Orang itu menjawab: “Benar ya Rasuulullah, saya dulu pernah berdo’a begini, Ya Allah janganlah Engkau siksa di akhirat karena dosa-dosa yang telah aku lakukan, kalau Engkau akan menyiksaku juga, maka jadikanlah siksaan-Mu itu di dunia sahaja ”
Mendengar jawaban orang itu, baginda Rasuulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda: “Subhaanallah ! engkau tidak akan sanggup menerimanya, tidaklah lebih baik engkau berdo’a:
رَبَّنَا أتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْأخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (رواه مسلم)
Ya Allah, berikanklah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta hindarkanlah kami dari api neraka” (H.R. Muslim).
Kemudian orang yang sakit itu mengikuti apa yang dianjurkan oleh baginda Rasuulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dan akhirnya ia sembuh dari sakitnya.

==========================================================================
Dari sumber lain: fimadani sebagai pengingat tentang kekuatan do’a.

Ini adalah sebuah kisah nyata dari Pakistan. Semoga dapat diambil hikmahnya.

Ada seorang doker ahli bedah yang bernama Dr. Ishan sedang terburu-buru menuju bandara. Dia akan menghadiri sebuah Seminar Dunia yang akan membahas tentang penemuan terbesarnya di bidang yang menjadi keahliannya yakni kedokteran. Sudah satu jam pesawat terbang menuju tempat tujuannya. Namun tiba-tiba petugas mengumumkan bahwa pesawat mengalami gangguan sehingga harus mendarat darurat di bandara terdekat.

Kemudian Dr. Ishan mendatangi ruang penerangan untuk mengajukan protes. “Saya ini dokter ahli, tiap menit saya berharga untuk menolong nyawa orang lain. Bagaimana bisa saya menunggu 16 jam untuk perbaikan pesawat?”

Petugas pun memberikan jawaban,”Jika Dokter sedang terburu-buru, Dokter bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil. Tempat tujuan Anda dapat ditempuh selama 3 jam dai sini,” Sang Dokter setuju dengan usulan tersebut. Dr. Ishan pun menyewa mobil.

Baru sejenak menaiki mobil, mendung bergulung dan petir menyambar. Hujan deras mengguyur, menyebabkan perjalanan mereka terganggu. Hampir 2 jam, mereka hanya berputar-putar tak tentu arah. Mobil yag mereka tumpangi tersesat. Karena mereka merasa kelelahan dan tidak mungkin meneruskan perjalanan, mereka akhirnya singgah di sebuah rumah kecil. Dr. Ishan mengetuk pintu rumah tersebut dan mendengar jawaban dari seorang perempuan dari dalam rumah.

“Siapa ya? Silakan masuk,”

Lalu, Dr. Ishan meminta izin untuk beristirahat di rumah itu dan meminjam telepon. Sang ibu pun terperanjat mendengarnya,”Apa Anda tidak sadar Anda dimana, Nak? Di sini tidak ada listrik, apalagi telepon…” Namun, Ibu itu tetap mempersilakan Dr. Ishan duduk dan menghidangkan makanan.

Dr. Ishan sangat terkesan dengan keramahan sang Ibu, dan memakan hidangan yang disajikan. Dr. Ishan melihat ibu itu sholat dan berdoa lama sekali. Di antara sholat dan doanya, sang ibu mendatangi seorang anak yang tak berdaya di tempat tidur. Sang Ibu nampak sedih dan gelisah. Lalu dia kembali sholat dan berdoa panjang sekali.

Dr. Ishan kagum dengan apa yang terjadi di depan matanya. Dr. Ishan mendatangi sang ibu dan berkata. “Bu, Anda sangat baik dan ramah. Semoga Allah menjawab doa-doa ibu,”

Sang Ibu menjawab,”Nak, Anda adalah ibnu sabil yang telah Allah titipkan. Maka, saya harus menolong Anda. Sebenarnya, doa-doa saya sudah terkabul semua, kecuali satu.”

“Apakah doa itu?”

“Anak malang ini adalah cucu saya satu-satunya. Dia telah yatim piatu. Dia menderita sakit yang tidak dapat disembuhkan oleh dokter-dokter yang telah merawatnya. Mereka mengatakan bahwa ada seorang dokter ahli bedah yang dapat menyembuhkannya, namanya Dr. Ishan. Akan tetapi dia tinggal jauh dari kota ini. Saya takut untuk membawanya keluar jauh, karena kesehatannya. Maka dari itu, saya berdoa untuk kesembuhannya,”

Dr. Ishan pun menangis mendengarnya.”Allahu Akbar, Laa haula wa laa quwwata illa billah… Sungguh doa ibu telah membuat pesawat yang saya tumpangi rusak, sehingga harus diperbaiki lama. Mobil yang saya tumpangi pun tersesat di tengah cuaca buruk. Itu semua telah Allah atur agar saya dapat tiba di sini dengan cepat dan tepat. Saya adalah Dr. Ishan, Bu. Allah mengutus saya untuk mengobati anak ini dengan cara-Nya sendiri,”

Sungguh, tiada doa yang disia-siakan oleh Allah Swt. Semua akan dijawab dengan cara yang indah.

“Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, sungguh Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memeroleh kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)