Fatal Jiddan

Fatal bin bodoh. Yes. Gw baru dapat telpon cinta semalam dari babeh kuliah S2 dulu. Bahas tentang jurnal gw yang ga ada kabar. Hidung gw memanjang pas jawab telpon. Ga suka diuber, tapi emang kali ini gw yang salah. Bahkan salah besar. Surel dari komitenya gw terima dua bulan lalu dan gw baca dengan ga teliti. Dalam pikiran dan pendapat gw, jurnal gw ditolak. Dah mau nangis padahal pas itu. Kecewa berat. Jadilah gw ga ngecek sistem online untuk submissionnya. Dari sinilah petaka melanda. Saking sibuknya gw Desember-Januari, begadang dan lembur non-stop, gw dah ga care tentang surel ini. Apa susahnya sih thom ngecek sistem submissionnya? Apa susahnya ngebaca comments dari reviewers? Apa susahnya meneruskan isi surel ke babeh disana? Apa susahnya??

Semalam dapat telpon cinta. Suruh update status jurnal. Gw ubek-ubek lah email. There is none. Ga ada email yang dulu. Terus apa gw salah baca? Kan sudah ditolak? Kok ga ada email? Percobaan selanjutnya adalah login systemnya. Gosh. Gw lupa username dan passwordnya. Gw biasanya pake 2 email: gmail dan kampus dulu. Setelah dicoba-coba, akhirnya gw berhasil login. Petaka selanjutnya adalah ternyata jurnal gw ga ditolak tapi suruh revisi. Hell yeah. But, deadline sudah lewat, dua bulan malah. Akk. Apa dikata ini. Kesalahan yang fatal.

Akhirnya gw kontek babeh lewat skype, diskusi bentar, suruh kirim comments yang ada. Ga usah bilang semua hal terkait ini. Simpan informasi sendiri dan bagilah seperlunya. Baca-baca ulang commentsnya, mikir apa yang harus diperbaiki karena gw udah lupa beberapa teorinya. Hahay. Padahal gw sendiri lah yang bikin itu teori. Hampir panik gw dibuatnya, kok ada table constellation yang kurang tepat. Ternyata gw hanya amnesia sementara. Setelah dihitung-hitung, ga ada kesalahan. Alhamdulillah. Lanjut perbaiki here and there. Response comments dari reviewers. Done. Re-submit.

Hal berikutnya yang harus diselesaikan adalah permintaan maaf ke editornya. Akk. Gw melakukan kesalahan fatal dan harus mengakuinya serta minta maaf sambil meminta diberikan kesempatan lain. Greedy? Ga kan? Gw udah email, dan tengkyu ke Ninuk dan Tina yang ngasih saran dan bantuan redaksional emailnya. Setelah dipoles-poles, akhirnya bisa terkirim. Sekarang tinggal berdo’a nunggu hasilnya. FYI, it takes several months untuk bisa diterima. I went 10 months to reach this state. Ngeri kan? Kebanyang kan betapa bodohnya gw karena melewatkan email begitu saja? Please pray for me.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s