Kuliah di Korea itu…

Sehubungan dengan banyaknya bukaan beasiswa di kampus-kampus korea, tiba-tiba gw ingat cerita indah kenapa gw mengambil S2 dan terdampar di Korea. Saat ini banyak orang yang menginginkan kuliah di luar negeri. Dulu gw pun begitu. Mungkin 3-4 tahun lalu, semangat kuliah di luar negeri begitu menggebu-gebu. Sampai-sampai orang tua gw menyarankan gw ngambil ITB aja kalau ga dapat beasiswa di luar negeri. Saking kasiannya ngeliat anaknya pengen sekolah S2. Hahay.

Ternyata kuliah di luar negeri itu ga senang-senang amat tapi juga ga sedih-sedih amat. Depends on negara mana dan gimana sistem perkuliahannya. Di Korea, kebanyakan mahasiswa S2/S3 nya bdang teknik alias engineering. Kerjaan orang teknik  itu jelas: riset di lab. Kalau anak S2/S3 ga nge-lab, rasanya kayak sayur tanpa garam, kurang sedap. Eiits, jangan salah. Sedap disini bukan berarti enak, justru di lab lah nasib kita ditentukan oleh juragan lab. Juragan lab adalah p-r-o-f-e-s-s-o-r. Juragan memegang peranan penting bagaimana kehidupan perkuliahan berlangsung. Apakah akan aman dan lancar selancar jalan tol atau kah sebaliknya, seperti jalanan berlubang dan bergelombang serta penuh paku dan duri.

Pengalaman gw dengan juragan ini cukup berkesan. Mudah juga enggak, sulit juga enggak. Juragan gw orangnya bawel tapi baik tapi pelit tapi rajin tapi matre tapi jago tapi ga fokus. Banyak tapinya. Cuman do’i (ciye do’i) seru kok. Kadang gw salut tapi juga kadang  jengkel kalau menyangkut tentang uang. Hati-hati lah dengan juragan-juragan ini, para mahasiswa bisa diperbudak oleh mereka. Untungnya juragan gw ga kejam. Gw inget pertama kali sampai di Gumi, juragan lah yang menjemput dengan mobil pribadinya lalu diantar ke ruangan lab. Gw dan tiga orang t eman gw adalah mahasiswa asing pertamanya. Maka bisa dikira, kami memiliki semangat yang sama dalam membangun lab. Bekerja sama untuk mengembangkan peradaban. Gw yang polos dan lugu belum menangkap sinyal jahat disini. Ternyata jelas, juragan akan baik karena kami adalah pegawai dan penghasil uang yang lumayan untuk lab. Awal-awal perkuliahan, gw begitu serius. Bayangkan saja, lab meeting itu seminggu 2 kali, Monday and Friday. Monday untuk riset, Friday untuk proyek. Lha kapan gw bisa jalan-jalan? Ga ada. Akhirnya gw jadi mahasiswa miskin dan melarat yang bolak-balik kosan-lab.

Seiring berjalannya waktu, sifat asli dari juragan pun ketahuan, baik dan buruknya. Gw pun beradaptasi dengan cukup cepat. Bahkan juragan kadang gw kibulin dengan intrik-intrik khusus. Haha. *nakal* Tapi ga parah kok, gw cuman beberapa kali kabur dari lab untuk jalan-jalan atau gw ga bikin presentasi dengan baik yang akhirnya dimarahi di depan kelas. Gw rada-rada ga tahu malu sih kayaknya. Mental kuda. Juragan gw kan masih muda, jadi pengalamannya dalam membimbing pun masih amatir. Keadaan jadi membaik ketika di tahun kedua ada anak baru berdatangan. Yes, juragan ada mainan baru. Tapi ternyata eh ternyata, mereka ga disiksa seperti gw dan 3 teman gw dulu. Hal ini disebabkan ada cewek-cewek yang bergabung di lab. Ternyata watak pria sama saja, lemah terhadap wanita. Termasuk juragan gw.

Dua tahun mengenyam pendidikan master di lab dengan lingkungan yang cukup heterogen, membuat gw lebih tau apa artinya kehidupan, kesulitan, tantangan, dan masa depan. Walaupun sampai sekarang galau gw ga hilang-hilang. Saran gw sebagai orang yang lebih dulu datang ke Korea, waspada lah sebelum datang, lihat tawaran beasiswanya dan juragannya, tanya kolega yang ada di Korea tentang hal tsb supaya ga ada penyesalan di belakang. So, pertanyaannya, jadi gw menyesal nih? Haha. No comment dah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s