Self-Talking

Tuh, kan random: Kapan ya gw bisa mikirin perut orang lain? Bukan cuman perut sendiri yang makin gede?

Advertisements

3 Time Management Solutions To Keep Productive All Day

I founded this article. That’s why I keep the same title. Credits to Business Insider and writer. It is really useful and makes me think “it’s easy to be productive” but all the laziness causes you otherwise.

As an entrepreneur, I’m always strapped for time. I’ve reached the point where I literally don’t breathe without thinking about how I can further my business aspirations. If you want to make it big, you need to realize the value of your time.

When last month I launched a Kickstarter campaign to fund my startup, I didn’t sleep the first three days, it seems. The results showed, though, as we reached our $15,000 funding goal by the end of Day 3. Launching and running a company drains you of time.

I’m a sophomore in college with a full load of classes. I am also a senator in my university’s student government, the vice president our of entrepreneurship organization, the marketing chair of the Student International Business Council and a tutor for the Chinese Language Union. I manage all this along with my company, Yes Man Watches.

I’ve learned three vital solutions for effectively managing time on a daily basis. Realize that everyone has the same 24 hours in a day, yet to make the most of time you need to consider your use of it. If you think someone is doing more with his or her day, you’re probably not utilizing your time efficiently.

1. Set short term goals to achieve long-term ones. This technique can be applied to almost anything. For example when launching my Kickstarter campaign, I made a to-do list that included writing my campaign page, shooting my video, contacting bloggers, among other things. My long-term goal was to launch a Kickstarter campaign while my to-do list included shorter-term goals that could be broken down even further. Shooting my video could be broken down into these components: finding a reputable videographer and writing the script and storyboard.

I also apply this goal-setting approach at school: If I have an eight-page English paper due in two weeks, my long-term goal is to complete my paper while my short-term goal would be to write an outline of it.

2. Use apps. Technology can help you manage your time efficiently. One of my favorite tools on my iPhone is simply my reminder app. Each night before I go to sleep, I write down at least three goals for the next day. This helps me have an agenda handy when I wake up and I try not to go to bed before setting my goals for the following day.

Social media is a huge distraction and time sink for people today. Though social media can be a great digital tool, if you’d like to limit your time on Facebook, Twitter or any other website, start using this Google Chrome extension: Stayfocused. This productivity app enables you to limit the amount of time you spend on any website page. I set a daily limit of 30 minutes for Facebook use. Once my 30 minutes is up, Stayfocused blocks it.

3. Plan your day. Instead of focusing on the time you don’t have, look at your free time and allocate it effectively. I look at my class schedule, see what free time I have and then use it to follow up on my daily reminders. If you work full-time, realize that your 9-to-5 job takes up just one-third of your day. Reframe the way you look at your day and you’ll realize you have more time than you previously thought.

Once you’re aware of the free time slots in your schedule, start planning what you’re going to do with them. As an entrepreneur, I’d suggest utilizing your free time to reach some of your short-term goals that will help you attain a longer-term one. For example during the stretch when I was contacting media outlets for my Kickstarter launch, if I had 20 minutes between classes, I’d try to add a few relevant blogs to my media-contact list.

The most valuable asset we have in our lives is time. Once you understand how to effectively manage your time, you’ll fully realize its worth. As Michael LeBoeuf said, “Waste your money and you’re only out of money, but waste your time and you’ve lost a part of your life.”

Nathan Resnick is a sophomore at the University of San Diego and the founder of Yes Man Watches. Having launched and advised several successful Kickstarter campaigns, he knows the ins and outs of how to turn ideas into realities.

Read more: http://www.entrepreneur.com/article/232162#ixzz2xEXn1JDM

Fatal Jiddan

Fatal bin bodoh. Yes. Gw baru dapat telpon cinta semalam dari babeh kuliah S2 dulu. Bahas tentang jurnal gw yang ga ada kabar. Hidung gw memanjang pas jawab telpon. Ga suka diuber, tapi emang kali ini gw yang salah. Bahkan salah besar. Surel dari komitenya gw terima dua bulan lalu dan gw baca dengan ga teliti. Dalam pikiran dan pendapat gw, jurnal gw ditolak. Dah mau nangis padahal pas itu. Kecewa berat. Jadilah gw ga ngecek sistem online untuk submissionnya. Dari sinilah petaka melanda. Saking sibuknya gw Desember-Januari, begadang dan lembur non-stop, gw dah ga care tentang surel ini. Apa susahnya sih thom ngecek sistem submissionnya? Apa susahnya ngebaca comments dari reviewers? Apa susahnya meneruskan isi surel ke babeh disana? Apa susahnya??

Semalam dapat telpon cinta. Suruh update status jurnal. Gw ubek-ubek lah email. There is none. Ga ada email yang dulu. Terus apa gw salah baca? Kan sudah ditolak? Kok ga ada email? Percobaan selanjutnya adalah login systemnya. Gosh. Gw lupa username dan passwordnya. Gw biasanya pake 2 email: gmail dan kampus dulu. Setelah dicoba-coba, akhirnya gw berhasil login. Petaka selanjutnya adalah ternyata jurnal gw ga ditolak tapi suruh revisi. Hell yeah. But, deadline sudah lewat, dua bulan malah. Akk. Apa dikata ini. Kesalahan yang fatal.

Akhirnya gw kontek babeh lewat skype, diskusi bentar, suruh kirim comments yang ada. Ga usah bilang semua hal terkait ini. Simpan informasi sendiri dan bagilah seperlunya. Baca-baca ulang commentsnya, mikir apa yang harus diperbaiki karena gw udah lupa beberapa teorinya. Hahay. Padahal gw sendiri lah yang bikin itu teori. Hampir panik gw dibuatnya, kok ada table constellation yang kurang tepat. Ternyata gw hanya amnesia sementara. Setelah dihitung-hitung, ga ada kesalahan. Alhamdulillah. Lanjut perbaiki here and there. Response comments dari reviewers. Done. Re-submit.

Hal berikutnya yang harus diselesaikan adalah permintaan maaf ke editornya. Akk. Gw melakukan kesalahan fatal dan harus mengakuinya serta minta maaf sambil meminta diberikan kesempatan lain. Greedy? Ga kan? Gw udah email, dan tengkyu ke Ninuk dan Tina yang ngasih saran dan bantuan redaksional emailnya. Setelah dipoles-poles, akhirnya bisa terkirim. Sekarang tinggal berdo’a nunggu hasilnya. FYI, it takes several months untuk bisa diterima. I went 10 months to reach this state. Ngeri kan? Kebanyang kan betapa bodohnya gw karena melewatkan email begitu saja? Please pray for me.

Balik Bulik

Do you know what “bulik” means? It means kembali atau bahasa gaulnya balik. Yes, indeed gw pengen balik ke kampung halaman, Banjarmasin. Gw orang yang terlalu delusional untuk membangun daerah dengan planning, strategy, and tactics yang belum jelas. Am I wrong here? Ga sama sekali. Gw ga merasa bersalah dengan semua hal delusional yang gw pikirkan tentang membangun Banjarmasin.

Salah kah gw berpikir akan menjadi orang kaya di Banjarmasin dengan membuka bisnis diberbagai lini? Gw berencana membuat smart village di Banjarmasin. Bekerjasama dengan vendor tertentu membuat sebuah perkomplekan atau apartment yang full technology support. Layanan listrik pake smartgrid, ada solar cell, wifi gratis, het-nets, small cell, dan IoT. Ada sensor di tiap-tiap tiang listriknya. Tentunya untuk security. Sumber energi lampu nya diambil dari solar cell atau penyerapan wireless signal: wireless signal harvesting. Beuh. Keren ya. Ditambah lagi ada Islamic Center yang full multimedia dan support technology. Kalau bisa ada semacam glasses untuk ngecek tilawah kita. Aih, joss tenan. Tapi sebelum itu bisa terlaksana, gw kudu belajar dulu dan ga males-malesan kayak sekarang. Ya kan? Ya kan?

Waiting for A Response (2)

Yaiy, gw dapat response setelah hampir 5 hari menunggu. The response was not totally positive or negative. Temen gw sih bilang response nya fair. Ada satu faktor yang belum diputuskan dan ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Apalagi kalau bukan budget. Yes, the amount hasn’t been decided yet. It results in deferring the decision for me. It’s okay. I’m okay. Gw akan menunggu sambil terus bekerja dan berusaha serta berdo’a. Wish me luck! I can make it, inshaAllaah!

City to Live in

Masih sangat ingat dulu pas awal masuk kuliah diploma di STT Telkom (now,Telkom University), gw bercita-cita pengen kerja di Singtel (Singapore Telecom). Sebuah mimpi anak muda yang ngasal, cuman melihat keindahan kerja di salah satu perusahaan ternama di Asia. Sudah tercapai? Belum. Waktu terus bergulir sampai akhirnya gw pernah “pengen” kerta di SK Telecom atau Korea Telecom atau Google. Mimpi gw ternyata banyak. Gw juga pernah pengen kerja di bank internasional yang beroperasi di Hongkong. Entah bank apa, tapi yang skala internasional dan di Hongkong. Kenapa Hongkong? Karena Hongkong kota bisnis di Asia. Pas gw kerja di Nielsen dan baca bukunya Pak Iwan Setiawan (9 Summers 10 Autumns), seriously gw pengen kerja di NYC. Mimpi gw cukup besar ternyata. Macam-macam kan mimpi gw? Banyak kan? Yes, banyak. Gw emang cukup delusional.

Dari sekian banyak keinginan yang gw tuliskan, tergambar cukup jelas kalau orientasi gw adalah luar negeri dan kota besar. Untuk luar negeri tercapai dengan gw kuliah S2 dan lanjut bekerja di Korea saat ini. Siapa yang menyangka gw anak ingusan kurus rada-rada penyakitan pas kecil bisa tinggal di negara asing cukup jauh dari kota kelahiran. Future is indeed unpredictable. But I made it kan? Gw bisa tinggal di luar negeri sekarang dan mimpi-mimpi gw belum berakhir walaupun kadang gw lupa sendiri. 😆

Untuk tinggal di kota besar, entah kenapa keinginan itu masih sangat besar membakar dada gw. I am still young though (hahay). Masih bisa eksplorasi lebih banyak. London, Berlin, NYC, Seoul, Tokyo. Kayaknya kota-kota tsb asik untuk ditinggali. Untuk Seoul, sebenarnya gw udah agak tau gimana padatnya itu kota. Sometimes Seoul ga bersahabat. Tokyo, I’ve been there once. Magis lah ini kota. Tapi mahalnya ga nahan. Tokyo tuh padat, elegen, dan sibuk. Bahasanya aja sih yang rewel gw ga paham. Dan kebetulan gw datang pas Spring, jadi udaranya enak banget. London dan Berlin belum tau rasanya. I need to come there first. Hehe.

Buat gw, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab nyamannya sebuah kota untuk ditinggali. Pertama, sistem transportasi. Mudahnya sistem transportasi umum seperti bus dan subway adalah hal yang sangat penting. I don’t want to spend my time on the road. Capek dan buang-buang waktu. Let’s say kalo skg masih ok karena gw single dan jauh dari keluarga. Tapi nanti ketika gw berkeluarga, masa iya gw mau berangkat subuh pulang malam. No time buat keluarga. Big no. Berdo’a yang banyak semoga gw terhindar dari musibah ini.

Faktor kedua adalah keamanan. Seoul dan Tokyo adalah dua kota yang gw anggap aman. Jalan tengah malam berasa ga ada yang mengintai. Gw pernah bermalam di stasiun kereta api dan ga apa-apa tuh. Ga khawatir ada yang malak atau ngejambret barang bawaan. Ketiga, tujuan dan kegiatan usaha/bisnis/pekerjaan. Ga bisa dipungkiri kalau faktor pekerjaan mempengaruhi dalam milih kota. Tapi logikanya juga bisa dibalik kok. Pilih kota dulu baru nyari pekerjaan yang cocok.

Apakah ada di Indonesia yang masuk kategori ini? Yang jelas bukan Jakarta. Mungkin bisa Bandung, Solo, atau Banjarmasin (gw dari Banjarmasin, so masih ada pikiran untuk mudik). Gw ga akan bahasa Bandung atau Solo, tapi Banjarmasin. Masih banyak hal yang bisa digali dari kota ini. Dan masih banyak hal yang harus diperbaharui sebelum terlambat. Gw ga mau Banjarmasin jadi kota amburadul macam Jakarta. The possibility of Banjarmasin to get bigger is certain. Jadi yang mengelola harus lah orang-orang yang paham betul bagaimana cara membuat kota ini berkembang dengan baik dari segala aspek. Gw yakin bisa kok karena gw akan kembali (hahay) dan ikut berkontribusi. Aamiinin aja yey.

Itu tadi pendapat gw, gimana pendapat lo, which city do you prefer to live in? Share ya!

Waiting for A Response

Well done, well done. Gw udah kirim email tadi pagi yang berisi attachment singkat 1 file. Satu file ini kayak file pusaka, ditulis berkali-kali, dipoles-poles, diproofreading oleh 3 orang, diedit, proofreading lagi, dan akhirnya kirim. Alhamdulillah ada orang-orang yang mau ngasih masukan gratis. Sebenarnya ini adalah dampak dari procrastination yang berlarut-larut. It was just one file yet very important dude. Grrrr.. Tapi Alhamdulillah sudah terkirim.

The next step is waiting for a response. Hal yang menyebalkan tapi apa boleh buat, itulah resikonya. Gw hanya bisa berdo’a lebih giat, merayu Tuhan secara lebih dahsyat, dan melanjutkan pekerjaan yang ada. Apapun hasilnya toh gw udah usaha maksimal. Right? So, I am happy today dengan segala yang telah gw lakuin. Sekarang saatnya kerja keras menyelesaikan codingan project yang deadlinenya udah kelewatan.