Mom’s Touch and Made by The Chocolate

“Mindset kita terbentuk dari apa yang kita lihat baik di tv, baca buku dan articles, dan dari apa yang kita dengar.” Teori tsb terbukti dari apa yang gue lakukan beberapa minggu ini. Misalnya pengen makan makanan tertentu habis nonton drama bertema makanan, pengen hangout karena liat photos di instagram tentang cafe-cafe, pengen traveling karena baca traveling blog, dan yang terakhir adalah pengen belanja karena liat photo fashion di instagram. Racun dah ini instagram! :p

Hari minggu lalu gue dan roommate coba eksplorasi nyari burger yang enak di pusat keramaian yang ga jauh dari tempat tinggal. Awalnya we wanted to visit House Grill, tapi apa daya setelah berputar-putar nyari tempatnya ga nemu juga. Daripada berakhir dengan Loteria (franchise lokal serupa McD), lebih baik ke tempat lain yang dulu pernah di kunjungi named “Mom’s Touch”. *Setelah dicari di internet, ternyata tempat ini juga franchise* Hehe.. Emang ya.. nasib oh nasib, mau nyari yang  fresh malah ketemunya fast food. (Sambil nulis ini malah ingat Subway. Beuh, fresh dah rasanya walaupun franchise juga)

IMG_1012

Apa yang menarik dari Mom’s Touch ini? French Fries alias kentang gorengnya! Rasanya maknyooos. The best kentang goreng yang pernah gw makan di Korea. Rasanya mirip gorengan di Indonesia, ga plain layaknya kentang goreng pada umumnya. Burgernya? Gw anggap wajar dan normal. Not really special. Harga? Bersahabat. Kalau dibandingin dengan Loteria kayaknya sebelah dua belas lah. Mahasiswa pasti ga akan “kanker” dibuatnya.

IMG_1019

1 shrimp burger, 1 set French fries, 1 set cheese stick, dan 1 cup coke ternyata ga memuaskan perut yang kosong. Akhirnya dengan keputusan siap boros, kami mencari tempat tongkrongan selanjutnya, a cafe! Made by The Chocolate adalah tujuan selanjutnya. Preference gue emang ga terlalu suka coklat, tapi apa daya, gue lagi malas minum kopi. Dan 1 lagi, tempatnya unique. Gue menyerah dengan keadaan. Alhamdulillah, satisfied dengan ini kafe.

IMG_1024

Dari segi penataan ruang, tempat duduknya ga terlalu banyak. Mungkin bisa mengcover 10 group people pada saat bersamaan. Interior ruangannya pun unique. Khas cafe bukan franchise (this is why I love non-chained cafe). Dilengkapi dengan berbagai majalah dan banyak buku bahasa inggris, semakin membuat gue betah berlama-lama di kafe ini. (If I were alone, gue akan lebih lama lagi. Roommate udah berasa ga enak karena banyak orang pacaran. Hahay) Yang bikin gw shocked, even buku Fundamental of Algebra aja ada disini. Buku angker bisa juga jadi hiasan. Buku-buku pajangan berjajar di pinggir jendela yang posisinya mepet tersusun meja-meja. Di salah satu sudut meja terletak lilin kecil yang terus menyala. Kesannya emang romantis buat couple.

IMG_1028

IMG_1027

IMG_1031

IMG_1035

IMG_1036

IMG_1053

IMG_1085

IMG_1084

Untuk urusan rasa, gw ga bisa bilang apa-apa selain enak! Menurut ilmu sotoy gue, coklatnya enak. Ga pahit, ga terlalu manis although we can add more sugar into our drink. Karena ini kunjungan pertama, maka gue pesan original hot chocolate. Harus tau dulu gimana rasa coklat disini tanpa ada campur rasa lain. Kalau enak, lain kali bisa berkunjung lagi. I expect more dengan rasa yang lain.

IMG_1063

By the way, ini kali pertama gue “nyoklat” di cafe yang gue-nya menyeduh minumannya sendiri. Jadi waitress nya hanya mengantar segelas susu hangat, sewadah kecil coklat, sepiring kecil snacks, dan alat pengaduknya.  Customers lah  yang membuat minuman coklatnya sendiri. Cukup berkesan dan memudahkan pelanggan. Pelanggan bisa mengatur tingkat kemanisan dari minuman yang dibuat. Plus point!

IMG_1068

IMG_1072

Selain varian coklat (ada lho mint chocolate atau green tea chocolate), ada juga berbagai jenis kopi. Untuk makanan, gue emang menebak di awal kalau sebuah cafe biasanya ada cake yang dijual. Tapi anehnya this cafe only displayed chocolate olahan. Ada lemari transparant di sebelah kasir tapi isinya cuman coklat-coklat olahan yang dibungkus menarik. Ternyata chocolate cake dan cheese cake nya disimpan di kulkas. Alhasil gue pesan cheese cake dan roommate pesan chocolate cake. Rasa? Lo harus coba. No words can explain. Enak!

IMG_1091

Tidak lengkap rasanya delicious drinks, a cheese cake, and a cozy place without music. Ga usah dengerin music sendiri di personal music player. Music nya keren dan gue banget. Jazzy. Ah, emang ini cafe mantep banget untuk menyepi. Lokasinya dipinggiran pusat keramaian, paling 20 menit jalan kaki dari kosan, harga? Oh iya, segelas coklat panas 4,500 krw ( 50,000 idr) and cheese cake or choco cake 5,500 (60,000 idr), harga yang sedikit lebih mahal untuk local cafe tapi worthy untuk dikunjungi. ^^ Waktu 1,5 jam terasa cepat berlalu, akhirnya gue pun cabut dari tempat ini dengan perut kenyang dan kepuasan bathin tak terkira. Alhamdulilllah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s