Startup (1)

Tidak ada kata terlambat untuk belajar termasuk belajar hal sedang hot saat ini, startup. Walaupun gw merasa sangat terlambat berkenalan dengan kata itu. Berasa pas Bachelor student, gw ngapain aja ya? Oke, gw belajar dengan tekun. *Ga juga* Gw berorganisasi dengan maksimal? *Ga juga* Jadi sebenarnya gw ngapain? 😆

Judul tulisan kali ini pakai “1” yang artinya akan ada edisi 2, 3, dan seterusnya (doakan gw supaya istiqomah menulis tentang startup dari berbagai sisi). Edisi kali ini gw ambil dari article lawas disini. Bagi yang ingin melihat tulisan langsungnya bisa langsung mengunjungi website tsb.

Everybody talks about startup and really wants to have a startup. Is it that easy? If it is that easy then maybe anyone can build it without failure. Tapi kenyataannya ga semua orang bisa membangun startup dengan mudah dan berhasil. I forget about the source but it was stated that almost 50% the startups are failed in first two year. It is a very hard way to take. Menurut gw hal paling sulit adalah memulai dan mempertahankan.

If you want to successfully build a startup, you need these three things: to start with good people, to make something customers actually want, and to spend as little money as possible. Well, the third one makes me surprised personally. It means money doesn’t matter here. Let’s take a deeper look.

The Idea
It doesn’t need a super briliant idea to create a startup. What we need is a better solution than we have now. Yeap, ide yang brilliant itu memang bagus, tapi apakah dengan brilliant bisa memberikan solusi bagi calon customers untuk memecahkan masalahnya? Sebagai contoh adalah Google. Perusahaan yang sangat besar, ide awalnya simple: memberikan bantuan kepada orang-orang untuk searching sesuatu dengan mudah. Sebeleum Google, ada juga beberapa search engine namun tidak memberikan efek yang signifikan. Ide ini pun bisa berubah seiring berjalannya waktu. Initial idea is indeed worthy, tapi yang paling penting adalah eksekusi. Nah, kata-kata yang bagus disini “What matters is not ideas, but the people who have them. Good people can fix bad ideas, but good ideas can’t save bad people.” Nyem. Dalem.

People
Pilih lah co-founders yang tepat dalam membangun startup. Jumlahnya tidak perlu banyak, 2 atau 3 orang sudah cukup. Bayangkan jika ada 7-8 orang menjadi founders sebuah startup, maka pengambilan keputusan dan hal-hal strategis lainnya menjadi lebih kompleks. Dalam hal startup bidang technology, it is better if one of the founders is technical person or engineer. The next question is do we need business people? Depends on. Bisnis bisa dipelajari dengan seiringnya waktu, termasuk marketing. Kita bisa hire orang business atau marketing nantinya jika diperlukan. Lalu bagaimana cara menghire para programmer? Disini disini disarankan pilih lah orang-orang yang bisa all out dalam bekerja. Orang-orang yang siap begadang sampai subuh demi memecahkan bugs di programsnya. Orang-orang yang siap banting tulang dan berdarah-darah untuk bersama-same mensukseskan goal perusahaan. Hal ini sangat krusial untuk keberlangsungan startup.

What Customers Want
Create products that customers want. The way is show them the products and see their reactions. Indeed, you can use this as a way to generate ideas for startups: what do people who are not like you want from technology? Diluaran sana banyak sekali yang ingin membuat produk yang tidak diinginkan oleh para customers. Logikanya emang simple. Apa yang jadi masalah, berikan lah solusinya. That is business. Pada saat awal merencanakan startup, founders mungkin sudah menentukan target customers. Ketika produk dilempar ke pasar, bisa jadi customers yang ditargetkan tidak memberikan reaksi yang bagus sehingga target customers pun bisa berubah. Produk yang telah dibuat pun bisa diperbaiki dengan melihat reaksi para customers (tentunya dengan pertimbangan, tidak semua harus dipenuhi). Alasan kegagalan dari sebuah startup pada umumnya adalah kehabisan funding. Kenapa? Karena setelah mendirikan startup, menghire banyak orang, lalu membuat produk dan berjalan berbulan-bulan, namun ternyata diakhir disadari bahwa produk yang dibuat tidak memberikan solusi apa-apa. Nihil.

Selain membuat produk yang sederhana dan yang memberikan solusi permasalah customers, sebaiknya mulai lah startup dengan membuat produk (aplikasi) perusahaan kecil atau menengah. Alasannya jelas, produk (aplikasi) yang diinginkan tidak begitu kompleks dan bisa diselesaikan dalam waktu yang relatif lebih singkat.  Quote yang gw suka adalah “If you build the simple, inexpensive option, you’ll not only find it easier to sell at first, but you’ll also be in the best position to conquer the rest of the market.  If you build the simple, inexpensive option, you’ll not only find it easier to sell at first, but you’ll also be in the best position to conquer the rest of the market.”

Pembahasan lebih lanjut mengenai Raising Money, Not Spending It, dan Should You akan gw tulis di post berikutnya 🙂 Need to back to my work! 😆

Cheers!

Thomhert

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s