Bermental Miskin

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mental merupakan kata sifat yang bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yg bukan bersifat badan atau tenaga. Sedangkan miskin memiliki definisi tidak berharta; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Jika digabungkan maka dalam definisi saya, bermental miskin adalah sifat dan watak seolah-oleh manusia tersebut orang miskin dan tidak punya uang, selalu meminta meskipun sebenarnya keadaannya berlebihan.

Perilaku bermental miskin ini bisa saja terjadi pada setiap orang termasuk saya. Hal ini didorong bagaimana kita melihat objek “si kaya” yang berintaksi dengan kita. Namun, akhir-akhir ini sering sekali menemui orang-orang bermental miskin di sekitar kehidupan. Yang saya khawatirkan adalah perilaku mental miskin ini malah menjadi kebiasaan sehingga dipelbagai kesempatan pun selalu nampak “miskin” padahal sebenarnya ada orang lain yang lebih pantas untuk menerima. Teringat kata-kata bijak berikut, bukan kah tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah? Sepertinya kata-kata tersebut sudah terlalu sering diabaikan.

Perilaku mental miskin bisa dipengaruhi berbagai faktor: kondisi keuangan dan status pekerjaan. Kondisi keuangan yang dianggap sulit kadang menjadi “tameng” dan “alasan” untuk bermental miskin. Tidak tanggung-tanggung, disegala kesempatan selalu minta diberi. Salah? Tidak. Namun jika selalu seperti itu, si pemberi juga “akan” berpikir ulang untuk memberi. Tengok lah diri pribadi, apa emang benar-benar “butuh” untuk diberi? Apa tidak ada orang lain yang lebih pantas untuk “diberi” orang lain? Hati dan pikiran kita yang bisa menjawabnya.

Beda hal dengan kondisi keuangan yang kadang memang lebih bersifat mutlak. Kalau memang uang ga ada, ya memang ga ada. Tidak bisa dipaksakan. Status pekerjaan tidak menjadi 100% bahwa si orang ini “pantas” diberi. Sebutlah status mahasiswa. Hal-hal kecil yang biasanya dilakukan mahasiswa: minta traktir pada senior yang sudah bekerja. Request ini wajar menurut saya. Tidak masalah. Toh si pekerja juga memang mendapat uang  lebih. Tapi apa iya harus selalu menraktir? Tidak. Apa semua mahasiswa berpenghasilan rendah (ini terkait graduate student di Korea)? Tidak. Lihat lah kondisi mahasiswa tersebut. Jumlah beasiswa yang didapat berbeda-beda. Ada yang lebih besar, ada yang lebih kecil. Mahasiswa-mahasiswa “bergaji” besar ini kadang lupa kalau gaji mereka besar dan masih “menjaga” mental miskin karena statusnya. Belum lagi mahasiswa yang berbisnis. Apa iya penghasilannya rendah? Belum tentu. Jangan jadikan status pekerjaan kita menjadi ajang pembelaan untuk bermental miskin.

Dalam tulisan ini saya tidak bermaksud menjustifikasi bahwa sifat ini salah. Tidak. Yang jadi titik tekan adalah sebelum meminta lihat lah kondisi pribadi, apa layak kita meminta kepada si objek pemberi, apa tidak ada orang lain yang lebih pantas mendapat bantuan? Karena sebagai manusia, kadang kita selalu ingin menerima tanpa peduli harus memberi orang lain atau tanpa peduli bahwa ada orang lain yang lebih pantas menerima bantuan.

Cheers!

Thomhert

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s