Workplace 5: Pindahan

Setelah berusaha mengelompokkan setiap tulisan tentang workplace dengan judul sama tapi ditambahi angka sebagai urutan chapternya, kali ini gw tambahkan sedikit tema di dalamnya. Berarti ke depannya format penulisan judul adalah Workplace “chapter” “theme”. What a great idea. 😆

Yes. Kantor gw pindahan dari Jangdae-dong area ke Techno World lantai 8. Semoga aja ini bagian dari hijrah. Artinya pindah menuju lebih baik. Kurang tau jelas alasan pindahnya kenapa, namun yang paling jelas alasan si boss mindahin kantor adalah kontrak ruangan habis (Ahhh, jadi ragu, karena he could break the contract. It is just the matter of pinalty) dan perlu ruangan yang lebih besar.

My company (not mine but a place that  I work in) baru dapat budget dari pemerintah Korea sebesar 200 million won. Dana yang lumayan besar buat gw. Duit itu lah yang nampaknya dipakai untuk bayar kantor baru. FYI, sewa kantor/apartment di Korea itu sistemnya berbeda dengan di Indonesia. A bit different. Not only pay for monthly rent free, but also put a deposit. Deposit ini yang bikin nyekek leher. Makin gede depositnya, makin kecil biaya bulannya. Biasanya kontraknya per tahun dan di akhir kontrak uang deposit tadi dikembalikan pada si penyewa. Apartment One room gw, bayar per bulannya 280,000 KRW diluar listrik dan gas, depositnya 2 million KRW. Kebayang ini kantor, bisa-bisa sampai 50 million KRW dana depositnya. Dan gw ga tau bayar bulanannya berapa disini ditambah haha hihi lainnya seperti electricity, gas, beverage, etc.

Pindahan gives both pros and cons. Let’s start with cons first: gw mesti bangun lebih pagi 😆 dan naik bus about 25 minutes. Oh iya, naik bus kan mesti bayar, jadi pengeluaran bulanan gw jadi naik 😆 Selain itu juga gw sering mual kalau naik bus yang jalannya ga lurus dan mulus. In other hands, positive points nya adalah tempatnya jadi lebih luas, gw sekarang punya cubical sendiri, menu makan siang jadi lebih variatif karena resto nya jual banyak jenis sup, ada alasan ga lembur karena harus pulang naik bus, dan yang terpenting jadi ga ngebosenin karena bisa ketemu banyak orang di lokasi lain serta pemandangan sekitar seperti lampu-lampu bangunan pas malam, gunung pas daylight.

Harapan gw dengan pindahan ini adalah semakin majunya perusahaan, semakin lancar dan produktif kerja gw, semakin beriman dan bertakwa, dan semakin yang baik-baik saja 🙂 Aamiin.

Cheers!
Thomhert

Startup (1)

Tidak ada kata terlambat untuk belajar termasuk belajar hal sedang hot saat ini, startup. Walaupun gw merasa sangat terlambat berkenalan dengan kata itu. Berasa pas Bachelor student, gw ngapain aja ya? Oke, gw belajar dengan tekun. *Ga juga* Gw berorganisasi dengan maksimal? *Ga juga* Jadi sebenarnya gw ngapain? 😆

Judul tulisan kali ini pakai “1” yang artinya akan ada edisi 2, 3, dan seterusnya (doakan gw supaya istiqomah menulis tentang startup dari berbagai sisi). Edisi kali ini gw ambil dari article lawas disini. Bagi yang ingin melihat tulisan langsungnya bisa langsung mengunjungi website tsb.

Everybody talks about startup and really wants to have a startup. Is it that easy? If it is that easy then maybe anyone can build it without failure. Tapi kenyataannya ga semua orang bisa membangun startup dengan mudah dan berhasil. I forget about the source but it was stated that almost 50% the startups are failed in first two year. It is a very hard way to take. Menurut gw hal paling sulit adalah memulai dan mempertahankan.

If you want to successfully build a startup, you need these three things: to start with good people, to make something customers actually want, and to spend as little money as possible. Well, the third one makes me surprised personally. It means money doesn’t matter here. Let’s take a deeper look.

The Idea
It doesn’t need a super briliant idea to create a startup. What we need is a better solution than we have now. Yeap, ide yang brilliant itu memang bagus, tapi apakah dengan brilliant bisa memberikan solusi bagi calon customers untuk memecahkan masalahnya? Sebagai contoh adalah Google. Perusahaan yang sangat besar, ide awalnya simple: memberikan bantuan kepada orang-orang untuk searching sesuatu dengan mudah. Sebeleum Google, ada juga beberapa search engine namun tidak memberikan efek yang signifikan. Ide ini pun bisa berubah seiring berjalannya waktu. Initial idea is indeed worthy, tapi yang paling penting adalah eksekusi. Nah, kata-kata yang bagus disini “What matters is not ideas, but the people who have them. Good people can fix bad ideas, but good ideas can’t save bad people.” Nyem. Dalem.

People
Pilih lah co-founders yang tepat dalam membangun startup. Jumlahnya tidak perlu banyak, 2 atau 3 orang sudah cukup. Bayangkan jika ada 7-8 orang menjadi founders sebuah startup, maka pengambilan keputusan dan hal-hal strategis lainnya menjadi lebih kompleks. Dalam hal startup bidang technology, it is better if one of the founders is technical person or engineer. The next question is do we need business people? Depends on. Bisnis bisa dipelajari dengan seiringnya waktu, termasuk marketing. Kita bisa hire orang business atau marketing nantinya jika diperlukan. Lalu bagaimana cara menghire para programmer? Disini disini disarankan pilih lah orang-orang yang bisa all out dalam bekerja. Orang-orang yang siap begadang sampai subuh demi memecahkan bugs di programsnya. Orang-orang yang siap banting tulang dan berdarah-darah untuk bersama-same mensukseskan goal perusahaan. Hal ini sangat krusial untuk keberlangsungan startup.

What Customers Want
Create products that customers want. The way is show them the products and see their reactions. Indeed, you can use this as a way to generate ideas for startups: what do people who are not like you want from technology? Diluaran sana banyak sekali yang ingin membuat produk yang tidak diinginkan oleh para customers. Logikanya emang simple. Apa yang jadi masalah, berikan lah solusinya. That is business. Pada saat awal merencanakan startup, founders mungkin sudah menentukan target customers. Ketika produk dilempar ke pasar, bisa jadi customers yang ditargetkan tidak memberikan reaksi yang bagus sehingga target customers pun bisa berubah. Produk yang telah dibuat pun bisa diperbaiki dengan melihat reaksi para customers (tentunya dengan pertimbangan, tidak semua harus dipenuhi). Alasan kegagalan dari sebuah startup pada umumnya adalah kehabisan funding. Kenapa? Karena setelah mendirikan startup, menghire banyak orang, lalu membuat produk dan berjalan berbulan-bulan, namun ternyata diakhir disadari bahwa produk yang dibuat tidak memberikan solusi apa-apa. Nihil.

Selain membuat produk yang sederhana dan yang memberikan solusi permasalah customers, sebaiknya mulai lah startup dengan membuat produk (aplikasi) perusahaan kecil atau menengah. Alasannya jelas, produk (aplikasi) yang diinginkan tidak begitu kompleks dan bisa diselesaikan dalam waktu yang relatif lebih singkat.  Quote yang gw suka adalah “If you build the simple, inexpensive option, you’ll not only find it easier to sell at first, but you’ll also be in the best position to conquer the rest of the market.  If you build the simple, inexpensive option, you’ll not only find it easier to sell at first, but you’ll also be in the best position to conquer the rest of the market.”

Pembahasan lebih lanjut mengenai Raising Money, Not Spending It, dan Should You akan gw tulis di post berikutnya 🙂 Need to back to my work! 😆

Cheers!

Thomhert

Bermental Miskin

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mental merupakan kata sifat yang bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yg bukan bersifat badan atau tenaga. Sedangkan miskin memiliki definisi tidak berharta; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Jika digabungkan maka dalam definisi saya, bermental miskin adalah sifat dan watak seolah-oleh manusia tersebut orang miskin dan tidak punya uang, selalu meminta meskipun sebenarnya keadaannya berlebihan.

Perilaku bermental miskin ini bisa saja terjadi pada setiap orang termasuk saya. Hal ini didorong bagaimana kita melihat objek “si kaya” yang berintaksi dengan kita. Namun, akhir-akhir ini sering sekali menemui orang-orang bermental miskin di sekitar kehidupan. Yang saya khawatirkan adalah perilaku mental miskin ini malah menjadi kebiasaan sehingga dipelbagai kesempatan pun selalu nampak “miskin” padahal sebenarnya ada orang lain yang lebih pantas untuk menerima. Teringat kata-kata bijak berikut, bukan kah tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah? Sepertinya kata-kata tersebut sudah terlalu sering diabaikan.

Perilaku mental miskin bisa dipengaruhi berbagai faktor: kondisi keuangan dan status pekerjaan. Kondisi keuangan yang dianggap sulit kadang menjadi “tameng” dan “alasan” untuk bermental miskin. Tidak tanggung-tanggung, disegala kesempatan selalu minta diberi. Salah? Tidak. Namun jika selalu seperti itu, si pemberi juga “akan” berpikir ulang untuk memberi. Tengok lah diri pribadi, apa emang benar-benar “butuh” untuk diberi? Apa tidak ada orang lain yang lebih pantas untuk “diberi” orang lain? Hati dan pikiran kita yang bisa menjawabnya.

Beda hal dengan kondisi keuangan yang kadang memang lebih bersifat mutlak. Kalau memang uang ga ada, ya memang ga ada. Tidak bisa dipaksakan. Status pekerjaan tidak menjadi 100% bahwa si orang ini “pantas” diberi. Sebutlah status mahasiswa. Hal-hal kecil yang biasanya dilakukan mahasiswa: minta traktir pada senior yang sudah bekerja. Request ini wajar menurut saya. Tidak masalah. Toh si pekerja juga memang mendapat uang  lebih. Tapi apa iya harus selalu menraktir? Tidak. Apa semua mahasiswa berpenghasilan rendah (ini terkait graduate student di Korea)? Tidak. Lihat lah kondisi mahasiswa tersebut. Jumlah beasiswa yang didapat berbeda-beda. Ada yang lebih besar, ada yang lebih kecil. Mahasiswa-mahasiswa “bergaji” besar ini kadang lupa kalau gaji mereka besar dan masih “menjaga” mental miskin karena statusnya. Belum lagi mahasiswa yang berbisnis. Apa iya penghasilannya rendah? Belum tentu. Jangan jadikan status pekerjaan kita menjadi ajang pembelaan untuk bermental miskin.

Dalam tulisan ini saya tidak bermaksud menjustifikasi bahwa sifat ini salah. Tidak. Yang jadi titik tekan adalah sebelum meminta lihat lah kondisi pribadi, apa layak kita meminta kepada si objek pemberi, apa tidak ada orang lain yang lebih pantas mendapat bantuan? Karena sebagai manusia, kadang kita selalu ingin menerima tanpa peduli harus memberi orang lain atau tanpa peduli bahwa ada orang lain yang lebih pantas menerima bantuan.

Cheers!

Thomhert

Iphone 5S: A Better One

Well, I know it is only three days after I bought my first Iphone device, Iphone 5s. I couldn’t help myself to write down my admiration of this device. Yes, I love it. I name it my precious. I have been using ipod for almost two years and it helped me a lot. I have not had any sophisticated device that I love so much. Even for now, I have a Nexus 7, I always bring my ipod everywhere. It is just my preference to listen to music through ipod not tablet. Listening to music from my tablet is just annoying and not comfortable. Shortly, I am more than satisfied with my ipod performance.

Purchasing a new hand-phone is not an easy decision. If you remember my post, I had an intention to buy Nokia Lumia 920. Unfortunately, Nokia Lumia 920 is not available in Korea. I need to order it from a store in Hongkong. I don’t like it, nope, I am quite old fashioned in buying a phone cell. $500 is not a small amount money for me. I don’t want to take a risk here. After considering it for couple of months, I decided having a phone cell soon, very soon. My last phone cell is blackberry when I was in Indonesia, quite long time ago. If you are curious, I only have a 2,5G phone cell. Only make calling and texting. No internet connection. It is like I found a treasure after struggling in the ocean. :p

Anyway, this is only my two cents. I don’t explain much about technical aspects. This review is totally based on my “short period” experience. I am going to add more later on.

Box

I never had an Iphone product, so i could not compare it to previous one. But as for now, this is the best phone cell I’ve ever possessed. Before purchasing it, I visited Frisbee to grab and hold the real device. Surprisingly, iphone 5s is light and solid. Elegant. I like the gold version but I took the space gray. Magnificent. It is simple yet shining. What I like the most from Iphone (and Ipod) is the screen. Its screen is pure, not like other phones, they look like plastic and I hate it. There are not so many different from my ipod 4 except iphone 5s has two speakers and the audio input for headphone is in the left side. The size, length, and depth are indeed different. Two cameras are provided by apple. Ipod only has one front camera. You can visit official Apple link for detail differences.

Unboxing

The box comes with one device, a set of charger and earphone. I found its earphone is amazing from the first time. Even though I hate the white color cable because it easily gets dirty. When I bought Ipod two years ago, the box was different from this Iphone. Apple wraps up the its products in simple ways. I really wanted to purchase gold edition but I went with space gray one because gold one is out of stock. I am okay.  It’s still beautiful.

Performance. I could easily compare this Iphone 5S with Ipod Touch 4. Iphone 5S is so much faster. I do not have any problem with iOS 7.0 with its colorful layout. In my opinion, Apple did decided very well to implement fingerprint touch ID. Fingerprint is very useful. It eases to open and access the phone. I even registered 4 fingers to unlock it. Best decision from Apple while other brands are using face recognition. Face recognition is irritating. I haven’t compared Siri to Google Now (maybe later). So far, I haven’t had a single thought to regret buying this device. I know that I sounds dramatic and too much. To emphasize it, I just chose what the best for me 😀 Hope you won’t get bored with this fanboying 😆

Cheers!
Thomhert

Workplace 4

Terbongkar lah semua daftar gaji pegawai di kantor ini. Apa gunanya buat gw? Secara langsung emang ga berdampak apa-apa, namun dilain hal gw mendapat pembelajaran lain. Pegawai kantor ini loyalitasnya tinggi. Sebuah fenomena yang menherankan jika dibandingkan dengan jumlah gaji yang didapat setiap bulan.

Sebut saja ada 8 orang pegawai di kantor ini, 2 orang asing dan 6 orang local. 6 orang local ini terdiri dari 1 team leader, 2 orang bersatatus tengah-tengah, 3 orang bawahan seperti gw tapi lebih duluan masuk kantor ini. Awalnya gw berpikir team leader dapat pembagian keuntungan dari setiap proyek yang didapatkan perusahaan. Secara logis, dari apa yang gw baca di beberapa article, team leader ini bisa diibaratkan co-founder. Orang yang jadi saksi sejarah perkembangan kantor. Tam leader ini adalah orang yang dari awal membangun perusahaan bersama-sama dengan si boss. Hampir semua lini proyek ada keterlibatan si team leader. Entah apa jadinya kalau team leader ga ada di perusahaan. Namun prasangka gw yang ini belum terbukti. Gw belum bisa membuktikan teori gw kalau team leader dapat shared profit. Yang gw bisa buktikan adalah nilai gaji dari si team leader.

Setelah tadi mengintip daftar gaji di computer boss secara ga sengaja, gw terkesiap. Gaji si tim leader ga terlalu besar kalau mengingat kontribusi dia terhadap perusahaan. Tapi apa yang membuat dia bertahan? Gossip-gossip yang beredar di dunia perburuhan korea, harusnya orang local dapat gaji lebih tinggi dari foreigner. Kondisi yang terbalik di negara kesayangan. Gaji orang asing lebih tinggi dari penduduk local.

Mari kita mulai analisis sederhana gw mengenai kesetiaan pegawai kantor ini yang siap lembur hampir tiap hari:

1. Love what they are doing
Apa yang bisa ngalahin passion. Kalau udah bidangnya dan minatnya disana, apapun bisa dijalani dengan gaji seadanya. Pekerjaan pun menjadi tantangan yang sulit untuk dilepaskan.

2. Company’s condition is good
Kondisi perusahaan yang baik. Makan siang dibayarin, makan malam kadang juga dibayarin. Kadang-kadang dibeliin kopi di café bawah. Kadang-kadang dibeliin ice cream dan snacks. Persediaan kopi sachet juga komplit.

3. Working in Daejeon is better than working in Seoul
Seoul adalah kota terbesar di Korea dan gw yakin gaji pegawai disana lebih tinggi. Namun macet, padat, dan udara yang katanya ga begitu bersih membuat orang-orang sini malas berpindah tempat.

4. Good boss
Si boss tuh pada dasarnya orangnya baik dengan segala kekurangannya. Setiap orang pasti pernah marah kan ya. Doi juga. Cuman pas awal gabung ni kantor, si boss bilang. We are family. Saya akan coba jadi boss yang baik. Semoga deh beneran baik ya, dan gaji turunnya lancar. Bagian yang aneh adalah kebiasan dia memegang kepala gw sambil mengelus-elus rambut gw. Berasa jadi iklan sampo.

5. No other place for working
Ga ada tempat kerja lain. Kalau dihitung-hitung umur pekerja disini, rata-rata udah hampir 30 tahun. Ada 1 orang yang sedang part time master degree. Nah, karena part time, dia makanya kerja di kantor ini. Ga tau deh kalau habis lulus dia bakal bertahan atau enggak.

6. Too lazy to find another working place
Ini terkait dengan nomor 5. Udah terlalu males nyari kantor baru. Jadi dinikmati aja dengan keadaan seadanya disini.

Begitu lah analisis sok tau gw. Benar atau enggak, ya gw ga tau pasti. Yang jelas kalau gw ditanya kenapa gw bekerja disini, gw akan jawab jujur: gw butuh kerja dan penghasilan.

Instable

Let’s say it is “Instable” because I did not know what the right title is to explain my feeling. At least for now, I am in love with design thing. Something that I never like since I was child. I clearly remember when I was a high school student, I was very bad at Graphical Technique subject. The only hope was that I passed the minimum passing grade. Until now, I still do not like drawing or designing a thing but I like and love seeing the design result.

Is it now clear why I said “Instable”? I do not like how to draw or design a single thing but I like imagining what this thing looks like. Isn’t it so strange? I could not imagine if the designers have a soul to create something but have no skill to draw their imagination. Isn’t it like you love a girl but couldn’t say you love her? Hah! Being so dramatic here.

I am proud of people that can design a thing to be a better solution. Well, just seeing the beautiful and magnificent design makes me happy.

Lelaki Sholeh

Di tengah-tengah ketidakkonsenan bekerja karena pencarian tiket promo ke negara tetangga, saya buka-buka facebook. Ketemu lah status teman (semoga pahala kebaikan mengalir padaNya) yang intinya seperti ini: ungkapan dari Umar bin Khattab.  Kata beliau hendaklah seorang wanita muslimah itu menikah dengan laki-laki yang sholeh karena meskipun ia tidak mencintai istrinya, maka ia tidak akan menyakitinya karena ia takut akan azab dari Allah SWT.

Ah, Allah SWT kembali mengingatkan dengan cara yang sangat indah. Ini kejadian kedua dalam beberapa minggu ini. Yang pertama, ketika saya  menggalau dengan menuliskan artikel tentang takut gagal. Seorang teman mengingatkan tentang isi Surah Al-Baqarah: 256-257. Ketika benar-benar hanya bergantung pada Allah, maka seharusnya tidak pernah takut jatuh karena Allah selalu akan menolong dan menjamin kehidupan kita. Masya Allah. Allah mengingatkan dengan cara yang indah.

Yang kedua adalah yang barusan terjadi. Ketika semakin bingungnya dengan suasana hati. Kesiapan menikah itu datangnya dari hati. Tidak bisa dipaksakan. Tapi bukan berarti kita tidak berikhtiar menuju kesana. Nah, yang jadi masalah adalah keenganan untuk berikhtiar, berusaha dan berdoa. Memohon agar dikuatkan hati, diteguhkan keimanan, dan diberikan kesiapan untuk segera menggenapkan agama. Dan kembali, Allah mengingatkan dengan cara yang indah. Saya tidak mengecek kebenaran kata-kata ini, namun mengambil hikmahnya saja. Seperti saya tuliskan di atas, kata Umar bin Khattab “hendaklah seorang wanita muslimah itu menikah dgn laki-laki yg sholeh karena meskipun ia tidak mencintai istrinya, maka ia tidak akan menyakitinya karena ia takut akan azab dari Allah SWT”. Those words menghipnotis saya. Bagaimana saya melihat diri saya masih jauh dari sholeh, belum dekat dengan masjid dan Al-Qur’an.

Jauh daripada itu, jika pun si suami tidak (belum) mencintai istrinya, tapi dengan alasan dan ketakukan kepada Allah SWT, maka ia pun tidak akan mendekati maksiat. Luar biasa. Speechless. Lelaki yang takut dengan dosa, yang takut dengan adzab Allah SWT. Tidak mau mendekati maksiat walau godaan di luar banyak. Lelaki sholeh. Siapa yang tidak ingin menjadi lelaki sholeh? Masya Allah. Alhamdulillah. Semoga semakin bisa memperperbaiki diri. Jika bukan agama, lalu apa yang bisa membentengi kita dari kemaksiatan, hawa nafsu, dan carut marut dunia?