Many Scenes

Layaknya sebuah film, hidup adalah kumpulan scenes yang terkait. Tidak semua bisa menebak kejadian apa yang akan dilihat berikutnya.

Ada yang bilang kuliah di luar negeri itu enak, kerja di luar negeri itu gaji besar, dan macam-macam lainnya terkait luar negeri. Well, tidak semuanya benar dan tidak semuanya salah. Sudah berulang kali para pakar menuliskan “Kebahagiaan itu tidak bisa dinilai dengan uang, tapi dengan uang bisa jadi kebahagiaan lebih mudah diraih” atau “Belum tentu si Kaya lebih bahagia dari si Miskin” atau “Nikah itu bikin bahagia” atau “Single itu bisa terus senang-senang”. Sejatinya memang tidak ada yang statis kecuali listrik *jayus*. Begitu pun hidup, ada saat kondisi naik dan turun. Masalah selalu saja datang menerpa.

Dua hari lalu, saya hadir *nggaya* dalam cara dinner di kantor. Jangan dibayangkan makan di resto hotel atau apa, intinya ini cuman makan bareng-bareng di rumah makan dekat kantor. Berhubung saya ga makan babi, jadi lah duduk tersendiri dan untungnya ada co-workers yang mau nemenin dan berkorban untuk makan selain babi. Di meja saya, ada 1 orang pegawai lokal alias korean. Usut punya usut, si dia ini ternyata belum pernah pacaran seumur hidupnya. Daebak! Hal yang fenomenal dikala menjamurnya muda mudi bermesraan di sejauh mata memandang seantero negeri ini. Alasannya sederhana, pacaran itu annoying. Ga cukup sampai disitu, rasa penasaran saya sebagai wartawan pun memuncak. Kapan target nikah? Cuek bebek, mengingat pertanyaan kayak gini biasanya langka untuk hubungan co-workers biasa. Jawabannya simple, ga tau. Pengen sendiri aja. It wows me, asli. Ada ya ternyata orang kayak gini. Bener-bener orang langka in my inner circle. Pelajaran hidup terbaru bagi saya. Saat hampir semua teman-teman saya berlomba-lomba untuk meninggalkan status lajang. Disini, orang-orang bahkan belum berpikir kapan nikah padahal umurnya sudah hampir 30 tahun.

Hidup saya pun penuh warna. Sejak 2,5 tahun lalu, hidup saya dipenuhi dengan berbagai riak dan gejolak. Sungguh berasa sedang main sinetron yang tak kunjung selesai episodenya. Ingin rasanya lakukan perubahan episode secara dramatis namun ketakutan dan kegelisahan maish mendominasi. Teringat kemarin nonton drama “Apa yang membuat berada diujung jurang itu menakutkan? Karena kita takut jatuh. Jika kita sudah tidak takut jatuh, maka sebenarnya rasa takut itu sudah tidak ada lagi. Dengan terjatuh, kita malah bisa melihat indahnya pemandangan di bawah sana”. Joss. Saat ini memang perasaan takut jatuh, takut menghadapi apa yang datang berikutnya, terus mengahantui sehingga saya belum bisa bermain all out. Kadang, mengakui kemampuan diri sendiri dan berkata “stop” adalah keputusan terbaik. Mungkin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s