Banjarmasin: A Sophisticated Traditional City – Part 1

A sophisticated traditional city, begitu jargon yang gw bayangkan untuk Banjarmasin di tahun 2030.

Banjarmasin merupakan ibu kota Kalimantan Selatan yang dilewati sungai Martapura dan Barito. Jika berkunjung ke kota ini, kita akan melihat sungai dimana-mana. Bangunan rumah pun berupa rumah panggung, yang merupakan ciri khas dari kebudayaan penduduk setempat. Walaupun oficially I am Banjarmasin resident tapi gw tidak pernah tinggal di Banjarmasin dalam waktu yang cukup lama. Pekerjaan orang tua lah yang memaksa keluarga gw tinggal di Banjarmasin kurang lebih hampir 5 tahun belakangan ini. Aktivitas gw di Banjarmasin hanya terjadi jika gw mudik alias pulang kampus setahun maksimal 2 kali dan hanya memakan waktu tidak lebih dari 3 minggu. Hal ini diperparah dengan gw masih tinggal di Korea saat ini. Keadaan ini tidak membuat gw berhenti berpikir, Banjarmasin seperti apa yang gw harapkan.

banjarmasin2
Banjarmasin di peta Indonesia

Februari 2013 lalu gw mudi ke Banjarmasin. Dalam kurun waktu 6 bulan, banyak hal yang mulai berubah di kota ini. Tentunya kota ini tambah macet di beberapa bagian apalagi saat ini ada pembangunan jalan layang di sekitaran Jl. Gator Subroto. Macet parah. Gw bukan ahli tata kota, namun pengguna motorcycle semakin hari semakin bertambah. Faktor pendukungnya adalah murahnya down payment untuk mengkredit motor dan tidak tersedianya mass transportation yang memadai. Well, I do realize kalau gw bisa jadi kontributor dalam hal ini If i lived in Banjarmasin. Kemana-mana susah, cuaca panas, berdebu, dan lain lain sehingga bersepeda atau jalan kaki adalah hal yang sangat sulit dilakukan. ย Berkaca dengan Gumi (Korea, tempat gw tinggal sekarang), memang penduduknya lebih sedikit, kotanya nampak lebih sepi dari Banjarmasin, namun sistem transportasinya sangat baik. Pengguna sepeda motor sangat sedikit. Jika pernah nonton drama korea, yang mengendarai sepeda motor itu hanya delivery man sebuah restoran. Selebihnya sangat jarang.ย Selain dari pengguna sepeda motor yang makin banyak, pengguna mobil pun juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Duh, bukan bidangnya untuk menganalisis apakah pengguna motor atau mobil yang berkontribusi lebih besar untuk kemacetan kota ini. Yang ingin gw tekankan adalah kota ini terlalu sayang untuk dibuat macet. Sebelum terlambat, ada baiknya kita selamatkan.

Mass transportation as the first solution. Jika pemerintah dan masyarakat mau bekerja sama, maka pengurangan penggunaan kendaraan pribadi dapat dilaksanakan beberapa tahun ke depan. Pembangunan infrastruktur kota seperti jalan raya menjadi PR bagi pemerintah jika hal ini ingin dilaksanakan. Sedikit gambaran, di hampir seluruh kota di Korea sudah menggunakan bus umum yang terintegrasi teknologi. Keadaannya sangat bagus dan layak sehingga masyarakat comfortable dalam penggunaannya. Pun harga ongkosnya tidak mahal. Jika menggunakan kartu elektronik, kita dapat berganti bus sebanyak 2-3 dalam durasi 1 jam kali tanpa bayar lagi. Hal ini sangat menguntungkan bagi pengguna bus umum. Untuk pelajar ada diskon. Bahkan ketika gw jalan-jalan ke Beijing, orang tua punya kartu elektronik sendiri yang bisa digunakan untuk naik bus, kereta, dan masuk lokasi wisata secara gratis.

Bus umum di Korea
Jika naik bus, makan cardnya di tempelkan di readernya
Jika naik bus, makan cardnya di tempelkan di readernya
T-Money (e-card)
Contoh kartu elektronik dan readernya pada bus

Lalu apakah kita bisa melakukan hal yang sama di Banjarmasin? BISA! Why not? Sebelum terlambat. Sebelum semuanya semakin sulit diatur, sebelum semuanya makin ruwet dan crowded.

Yang gw bayangkan adalah angkot yang terintegrasi dengan teknologi (jika bus terlalu sulit, karena angkot sudah ada). Dengan kondisi jalan yang tidak begitu besar, menurut gw, angkot bisa jadi salah satu pilihan. Kita buat angkot yang baik dan nyaman dengan sistem yang terintegrasi (Mari kita abaikan sementara apakah infrastructure nya sudah memadai atau tidak). Coba bayangkan jika ada (misal) 30 jalur berbeda yang bisa mengcover seluruh kota hingga desa-desa pinggirannya. Ditambah dengan jumlah angkot yang cukup banyak, maka penggunaan kendaraan pribadi bisa diminimalisir.

Bicycle. Solusi kedua adalah pembangunan jalur sepeda yang aman dan layak. Panas dan berkeringat adalah 2 hal yang paling malas gw hadapi ketika naik sepeda. Namun, ini dikarenakan jalan untuk sepeda di Korea sudah sangat baik dan aman. Jika kita ingin membudayakan penggunaan sepeda, maka hal pertama adalah menyediakan infrastruktu yang aman dan layak. Dilema naik sepeda di Banjarmasin adalah salah-salah kita malah ditabrak. Ini juga jadi the biggest problem buat pedestrian. Mau sehat jalan kaki tapi panas dan takut keringetan. Eh, udah mau panas-panasan dan bau keringat, tapi takut ditabrak. Ya salam. Susah kan? Makanya pengguna motor dan mobil harus dikurangi. Selain bikin amat penjalan kaki dan pengguna sepeda, ini juga membantu mengurangi polusi kota. At least, debunya ga berterbangan kemana-mana.

Problem dan solusi lain akan ditulis di postingan berikutnya ya! ๐Ÿ˜‰

Disclaimer: Tulisan ini dibuat tanpa survey mendalam. Hanya buah pikiran seorang engineering kampungan. Kondisi kemacetan memang bukan di jalan besar dan terjadi hanya di beberapa sudut kota ๐Ÿ™‚

Note: ini ada artikel menarik yang stated kalau Banjarmasin bebas macet. Yuk, sebelum macet beneran mari berbenah.

http://travel.detik.com/read/2012/11/12/170722/2089585/1383/4-kota-besar-bebas-macet-di-indonesia

References:

http://lavidademigi.blogspot.kr/2012/07/a-korean-review-day-8-transportation.html

http://sendmetokorea.blogspot.kr/2009/07/this-is-where-your-bus-fare-goes-in.html

Advertisements

12 thoughts on “Banjarmasin: A Sophisticated Traditional City – Part 1

      1. thomhertsiadari says:

        hahaha… biar seru ya. Ntar lo black campaign dengan pasangan lawannya. Ntar lo gw seret ke pengadilan ๐Ÿ˜†

      2. klo gitu gua bakal panggil wicak yang udah di kpk. jadi cita-cita wicak ketemu sama loe di pengadilan bisa tercapai. :))

      3. ini salah satu pembicaraan paling absurd di blog orang yang pernah ane buat.

        yaudah, moga kita tetanggaan di surga ya thom. tapi level loe di surga di bawah ane. amiiin.

      4. thomhertsiadari says:

        haha,,
        sama, absurd ini kita.
        KITIS ya. duh, gw aamiin-in ya tp utk ga yang lebih bawah itu ๐Ÿ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s