Common Questions

Sejak masih kuliah sampai sudah sidang inipun banyak banget yang nanya pertanyaan yang sama, diantaranya:

  • Kapan balik Thom?
  • Kerja disana atau balik ke Indonesia?
  • Kapan nikah?

Ga terganggu juga sih dengan pertanyaan yang sama, cuman kadang-kadang malas jawab juga ada. Normal kali ya. Pertanyaan yang dengan mantap bisa gw jawab cuman 2 teratas, sedangkan yang terakhir belum tau kapan ya. Jadi mohon sabar aja.

Alhamdulillah gw udah dapat kerja, belom signing contract sih, masih ngomong-ngomong doang. Tapi ya gw udah ngerjain beberapa tugas untuk develop board. Cita-cita gw untuk terjun di bidang telco sepertinya mulai tergerus. Gw berpikir dangkal, jika jadi engineer telco maka gw susah kaya. 😆 Permasalahannya adalah gw pengen terjun bisnis IT convergence. Bidang embedded system dan kawan-kawannya sangat menggoda untuk dipelajari. Therefore, perusahaan yang gw akan masuki adalah perusahaan start-up yang akan develop ISA 100a dan Wireless HART. Daebak. Gw risetnya tentang MIMO dan cellular planning. Sekarang disuruh ngerjain embedded system gitu. Alamak! Puyeng yet interesting sih.

Awalnya gw dapat tawaran kerja di perusahaan yang bergerak di bidang preventing disaster. Intinya si company develop sensor system untuk detecting tanah longsor. Nah, guessing kalau gw lebih cocok ke si ISA 100a ini. Alhasil gw membelot ke perusahaan yang sekarang. Perusahaannya masih kecil. Offernya juga secara lisan nampak biasa. Bisa jadi banyak yang ga mau nerima ini untuk ukuran master degree. But well, gw butuh kerja dan money. Disamping itu, gw melihat bidang ini akan berkembang pesat beberapa tahun ke depan. Dengan begitu, ini adalah gold ticket gw buat belajar business dan technical things secara bersamaan. Gw tertarik dengan etika business di Korea ini yang notabene bidang IT nya sangat sangat berkembang. Kalau gw bisa mempelajari hardware dan software ini dengan baik, maka bukan ga mungkin kalau gw someday bikin perusahaan IT sendiri di Indonesia. Target gw mungkin 1 tahun bekerja di perusahaan ini. Setelah itu gw akan mengincar perusahaan yang lebih besar sebelum melanjutkan PhD program. Jika bekerja di perusahaan yang gede, biasanya niat untuk lanjut sekolah itu menjadi berkurang. Ini nih yang bikin gw ga kepengen kerja di perusahaan gede. Terlalu sayang untuk dilepaskan. Yeap, I am greedy and sok idealis emang untuk hal itu.

Selamat buat gw yang akan segera bekerja, ga sabar pengen terjun ke dunia professional. Hey world, I am cooooming!

Advertisements

Thesis Defense

Alhamdulillah.. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Saya sudah sidang pada hari Jum’at, 14 Juni 2013 sekitar jam 4PM di D119. Sidangnya cuman 10 menit 🙂

Defense

Terima kasih ya Allah atas semua nikmatMu yang tak pernah terhitung jumlahnya.

Terima kasih kepada kedua orang tua yang telah berjuang keras mendukung pendidikanku.

Kepada Mama yang tak pernah henti-hentinya mendo’akanku siang dan malam, yang selalu khawatir kalau telat makan, yang menangis kalau aku ga enak badan, yang selalu ga pernah mau ganggu kalau aku lagi sibuk, yang selalu sabar dengan semua yang dialami.. Terima kasih ma.

Kepada Papi yang telah bekerja keras sebagai kepala keluarga. Tanpamu, aku ga bakal bisa sekolah.

Kepada kakak, yang gw sebagai adik kurang berbakti.

Kepada adik, yang mulai dari SMA ga pernah tinggal bareng gw karena kakak sekolah di luar kota, yang selalu kakak marahin kalau ga bisa ngerjain PR.

Kepada teman-teman di lab: Fadil, Wicak, Eddy, dan Hamka yang dari awal berjuang bersama. Masih ingat gw, pas awal-awal ketemu di bandara. You are all everything disini. Siapa yang bisa gw minta tolongin kalau bukan kalian. Kepada Toha, sorry ya aku lulus duluan 😛  Isnan, Ika, Ifa, all korean yang ga pernah ngomel kalau gw orangnya ga asik 😆

Kepada teman-teman Agi, Tyo, Mas Fav. Maaf kalau gw banyak salah ya. 2 tahun disini sungguh berkesan.

Kepada babeh prof. Naga, makasih atas undangan belajarnya. Semuanya sunggu berkesan, suka duka, senang bahagia, all memories ga akan terlupa.

Kepada teman-teman gw di Indonesia: Ninuk dan Tante Tina, 2 orang yang selalu bisa gw repotkan kapan saja. Fahmi, walaupun jarang ngobrol, tapi ini orang selalu menyemangati. Kita akan sukses! Mbak Risna, orang yang selalu ngedengerin gw cerita dan ngasih support. Makasih mbak. Selamat atas menempuh hidup baru ya! Sorry aku ga bisa datang 🙂 Fachrie, Raly, Anwar, Ulik, Edi, Fajar, Pipin, dll group uye2 house, makasih ya atas do’anya.  Ita, yang udah bantuin meringankan beban saat-saat menjelang thesis. Makasih ta, sukses juga ya!

Kepada saudara-saudara seperjuangan di Korea Bang AS, AT, AN, MHA. Jazakumullah khairan katsiran atas do’a antum ya. Semoga Allah merekatkan hati-hati kita dalam perjuangan ini.

Kepada semua orang yang ga bisa gw sebutkan namanya, makasih atas do’a dan dukungannya. Terima kasih. Terima kasih. Semoga ilmu dan gelar yang didapat bisa bermanfaat untuk diri sendiri, masyarakat, bangsa, negara, dan agama.

Saatnya bertarung di medan perang selanjutnya! I am comiiiiiing world! 😀

“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al Insyirah: 7)

H-1

7.28PM – dugeun dugeun dugeun..

– PPT – done

– Tie – done

– Suit – done

– formal shoes – done

– thesis document  – done

– Socks – done

– Formal shirt – not yet

– Snacks and beverage – done

Well, kurang dari 24 jam lagi sidang. Wish me luck. Besok pagi call juries pagi-pagi sebagai reminder ^______________^

This Country

I love this country more and more

Ibarat bayi yang berumur 2 tahun, itulah umpama kehidupan gw di Korea. Kalau ingat keponakan gw yang umurnya hampir 2 tahun, dia udah bisa jalan, udah banyak giginya, dan udah bisa dikit-dikit nyoba ngomong. Lucu dan lincah. Mungkin gw bisa diumpamakan seperti itu. Tinggal 2 tahun di Korea bisa apa sih gw? Ngomong Korean juga belum bisa, masih a-i-u doang. Belum lagi masalah kebudayaan, cuman secuil yang gw pahami. Lucu dan lincah? Iya, gw lucu kok. Lincah? Masih banyak lokasi wisata yang belum dijamah.

Dua tahun itu waktu yang sebentar bagi sebagian orang dan lama pula untuk yang lainnya. Menjalani master degree hampir 2 tahun itu lama tapi terlalu sebentar untuk pemahaman risetnya. Seiring berjalannya waktu, sudah sunatullah kalau makin banyak juga yang dihadapi. Kadang bosan, muak, dan benci dengan keadaan disini. Tapi juga di lain hal gw takut meninggalkan negara ini. Hari demi hari, gw mulai terbiasa tinggal disini dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Bukan kah yang harus gw lakukan adalah melengkapi kekurangan itu bukannya mencari-cari alasan untuk meninggalkannya? 😉

Gw bertanya pada diri sendiri, apakah setiap orang yang tinggal di luar negeri mengalami fase yang sama seperti gw? Ingin balik ke Indonesia untuk memperbaiki negeri, tapi disana malah tidak dianggap. Belum cukup kuat mental untuk berjibaku dengan kerasnya hidup. Ingin menetap lama di negara lain, namun keterbatasan juga banyak. Mari dinikmati saja lah, sampai waktunya tiba untuk memutuskan hal yang lebih besar ^_^

Beri Alasan

Duh, paket komplit nih. AirAsia Busan-Tokyo 100ribu won, Seoul-Nagoya 140ribu won. Flypeach Busan-Osaka 160ribu won. Promo tiket emang bikin galau. Berhubung gw sudah pernah berkunjung ke Tokyo, rasa-rasanya gw pengen ke Nagoya. Tapi Tokyo juga masih belum puas. Tokyo merupakan salah satu kota yang pengen gw kunjungi lagi karena suasananya asik. Kotanya bersih dan sangat ramai. Kurangnya cuman living cost nya 2-3x lipat dari Seoul.

Gw masih belum nemu alasan yang cukup kuat untuk membeli tiket ini. Harga tiket tsb ga murah pas lagi ada libur panjang sehingga kalau gw beli, gw perlu cuti minimal 1 hari. Nah, kalau rencanya sih gw berangkat Jum’at malam dan balik senin sore. Jum’tnya nyampe di Tokyo jam 9.30PM. Ini sudah jelas gw ga bakal kemana-mana kecuali gw mau dugem which is bukan gw banget dan costnya pasti mahal banget. Jadi kalau gw ambil trip ini, jalan-jalannya cuman Sat, Sun, and half day on Monday. Uang saku untuk jalan di Tokyo minimal 200ribu won. So, totalnya 100 + 200+ 50 (visa) = 350ribu won. Worthy? Cukup worthy sih, cuman gw kok malas ya ngeluarin duitnya :lol;

So, buat yang baca, kasih gw alasan dong untuk beli tiket ini dan jalan-jalan ke Tokyo (lagi).

 

Banjarmasin: A Sophisticated Traditional City – Part 2

I’m back. Mumpung masih segar idenya dan masih semangat nulisnya 😉

Selain mengenai transportasi dan kemacetan. Concern gw adalah pada bidang telecommunication. Coba search ke mbah google dengan keyword “kampung wi-fi”. Apa hasilnya? Kebanyakan disana adalah tentang kampung wi-fi di Malaysia. My first impression was WOW! We too far left behind than Malaysia. Ide awalnya adalah pengen adanya akses mudah internet gratis di hampir seluruh titik kota. Pernah baca tentang Seoul kota tersebar wi-fi dimana-mana? Atau internet gratis hampir di seluruh Korea? Bahkan pengalaman pribadi gw ketika naik gunung Halla (Hallasan / Halla Mountain) di Jeju, ada wi-fi gratis di post terakhir sebelum puncak. Amazing! Jika membandingkan dengan Korea, makan jelas Indonesia saaaaangaaaaaat jauh tertinggal.

Nah, jadi idenya adalah membangun kampung wi-fi di Banjarmasin. Make it simple. Kita coba build RT (Rukun Tetangga) Pintar atau RT wi-fi atau RT percontohan. Whatsoever it is, intinya ini RT  digodok, dibina, diatur, dikontrol, dan disemua-semuakan untuk menjadi RT percontohan. Gw udah cari-cari sumber di internet, mungkin sudah ada beberapa wilayah di Indonesia yang coba dikembangkan menjadi kampung pintar ini. Bahkan pernah ada yang nulis kurang lebih seperti ini “akan sia-sia jika disediakan wi-fi gratis namun tidak digunakan dengan maksimal oleh masyarakat”. Hence, pembangunan RT cerdas ini butuh banyak pertimbangan dan konsep yang matang dari berbagai ahli.

Boleh anggap gw sotoy deh. Ga apa-apa, setidaknya ini yang pengen gw usahakan. Gw beranikan nulis ini dengan harapan bahwa akan ada orang-orang/komunitas/ kelompok yang mau bekerja bersama mewujudkan hal ini. As I said, RT cerdas. Hal yang perlu diperhatikan adalah pemiliha lokasi RT-nya (Mari exclude hal ini dari pembahasan ini agar lebih fokus). Gw coba paparkan dari sisi keahlian gw aja 😀

RT Cerdas
Gambaran Komplek
Garis Biru: Jalan dalam komplek
kotak: rumah

Dengan mengabaikan penjelsan detail mengenai bagaimana cara pembangunannya namun dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa misalnya ada 1 RT yang terdiri dari beberapa rumah. Disana dibangun lah sebuah jaringan yang terhubungan dengan operator/provider (misalnya Telkom). Warga bisa mengakses internet hanya dengan menggunakan wi-fi. Jika ingin dibuat lebih oke, maka kita bisa menggunakan heterogeneous network dengan infrastructure yang sudah ada. Misalnya ada small BTS (base station) dari operator tertentu, dari sini warga bisa mengakses BTS tersebut sehingga performancenya pun menjadi lebih bagus. Small cells ini beberapa sudah diimplementasikan di Inggris, Singapura, dll. Nah, (abaikan teori pendukungnya), anggap aja teknologi ini diimplementasikan secara gratis oleh pemerintah maka yang jadi fokus gw adalah bagaimana membagun infrastrukturnya, pembinaan akan meleknya teknologi, dan pengevaluasiannya. Kebayang kan? Bisa akses internet gratis (atau murah lah), ga usah pake signal GSM (kayak yang biasanya dipake lewat hape). Ngerjain tugas jadi lebih gampang, main facebook jadi lebih mudah (aiih), ngetwit makin lancar (uwoo), ngeyoutube (ihiiir) jadi lebih joss. Hahaha. Tenang, semua web yang bisa diakses juga  bisa diatur kok. 😛 hihi

Bagi yang tertarik join force (alah), bisa kontak gw ya, anytime! Dengan senang hati gw pengen ini dijalankan segera di Banjarmasin ^_^

Banjarmasin: A Sophisticated Traditional City – Part 1

A sophisticated traditional city, begitu jargon yang gw bayangkan untuk Banjarmasin di tahun 2030.

Banjarmasin merupakan ibu kota Kalimantan Selatan yang dilewati sungai Martapura dan Barito. Jika berkunjung ke kota ini, kita akan melihat sungai dimana-mana. Bangunan rumah pun berupa rumah panggung, yang merupakan ciri khas dari kebudayaan penduduk setempat. Walaupun oficially I am Banjarmasin resident tapi gw tidak pernah tinggal di Banjarmasin dalam waktu yang cukup lama. Pekerjaan orang tua lah yang memaksa keluarga gw tinggal di Banjarmasin kurang lebih hampir 5 tahun belakangan ini. Aktivitas gw di Banjarmasin hanya terjadi jika gw mudik alias pulang kampus setahun maksimal 2 kali dan hanya memakan waktu tidak lebih dari 3 minggu. Hal ini diperparah dengan gw masih tinggal di Korea saat ini. Keadaan ini tidak membuat gw berhenti berpikir, Banjarmasin seperti apa yang gw harapkan.

banjarmasin2
Banjarmasin di peta Indonesia

Februari 2013 lalu gw mudi ke Banjarmasin. Dalam kurun waktu 6 bulan, banyak hal yang mulai berubah di kota ini. Tentunya kota ini tambah macet di beberapa bagian apalagi saat ini ada pembangunan jalan layang di sekitaran Jl. Gator Subroto. Macet parah. Gw bukan ahli tata kota, namun pengguna motorcycle semakin hari semakin bertambah. Faktor pendukungnya adalah murahnya down payment untuk mengkredit motor dan tidak tersedianya mass transportation yang memadai. Well, I do realize kalau gw bisa jadi kontributor dalam hal ini If i lived in Banjarmasin. Kemana-mana susah, cuaca panas, berdebu, dan lain lain sehingga bersepeda atau jalan kaki adalah hal yang sangat sulit dilakukan.  Berkaca dengan Gumi (Korea, tempat gw tinggal sekarang), memang penduduknya lebih sedikit, kotanya nampak lebih sepi dari Banjarmasin, namun sistem transportasinya sangat baik. Pengguna sepeda motor sangat sedikit. Jika pernah nonton drama korea, yang mengendarai sepeda motor itu hanya delivery man sebuah restoran. Selebihnya sangat jarang. Selain dari pengguna sepeda motor yang makin banyak, pengguna mobil pun juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Duh, bukan bidangnya untuk menganalisis apakah pengguna motor atau mobil yang berkontribusi lebih besar untuk kemacetan kota ini. Yang ingin gw tekankan adalah kota ini terlalu sayang untuk dibuat macet. Sebelum terlambat, ada baiknya kita selamatkan. Continue reading “Banjarmasin: A Sophisticated Traditional City – Part 1”