Untaian Rindu

Tak terasa hari ini adalah kedua kalinya merayakan Idul Adha di negeri ginseng ini. Alhamdulillah masih bisa sholat dan berkumpul dengan saudara seiman disini. Rindu dengan keluarga di Indonesia pun semakin menjadi. Ingin rasanya melihat senyuman dari wajah adikku tersayang dan ibunda terbaik sedunia yang paling kucintai. Aku merindukan mereka. Kutuliskan untain rindu dalam kata-kata. Kupanjatkan do’a padaMu ya Allah. Sampaikan hangat rindu ini kepada mereka. Jaga mereka dalam lindunganMu. Kuejamkan mata, membayangkan memeluk mereka, sampaikan pelukan ini pada mereka. Sampaikan salam rindu ini pada dua orang terkasih…

Advertisements

Solution, maybe?

Walaupun gw belum pernah melakukan survey akurat (secara gw dulu pernah kerja di perusahaan consumer research muti-nasional), tapi gw yakin almost 100% kalo tiap orang pernah berjanji dengan dirinya sendiri dan berulang kali mengingkarinya, am I right? Kalau gw salah, you can leave this article then! 🙂 Kalau lo masih insist buat baca, semoga ini bermanfaat deh buat you all yang belum pernah merasakan dikhianati diri sendiri. *bahasa gw* Yup, kali ini gw mencoba berteori tentang solusi yang harus gw ambil untuk mengatasi segalam macam problems yang gw hadapi. Step by step, I try to fix all my problems. Let’s see teori gw. Setelah mengalami banyak fase dalam menghadapi masalah, akhirnya gw berkesimpulan bahwa masalah gw adalah time management and  “one direction”. Mungkin time management semua orang udah tau, hal ini bisa diselesaikan dengan berbagai versi.

Continue reading “Solution, maybe?”

Seoul Trip (1)

Gw menyukai perjalanan gw ke Seoul beberapa minggu lalu. Menurut gw sih perjalanan yang tidak biasa. Awalnya gw berencana ketemu Ninuk, Tina, Cheppy, Poppy, dan Alif di Busan tapi apa daya karena satu dua hal membuat mereka ketinggalan bus gratis ke Busan. Kalaupun mereka memaksakan menggunakan kereta, mereka bakal nyampe Busan sore hari. Maybe it was not worthy enough. Dan akhirnya gw mengalah dengan mendatangi mereka ke Seoul which was very expansive trip dari Gumi (versi gw sih mahal). Butuh sekitar 3 jam perjalanan Gumi-Seoul dengan bus, sayang 2 ribu buat naik kereta dan lebih lama pula. Entah kenapa saat itu gw pasti capek banget setelah naik bus berjam-jam (hal ini juga terjadi saat perjalanan Incheon-Gumi, gw teler). Sesampainya di Seoul, satu-satunya cara gw menghubungi mereka adalah dengan twitter. Canggih dan bodoh. Dua kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana sulitnya komunikasi via twitter. Alasannya adalah karena gw pake ipod, gw hanya mengandalkan wi-fi gratis sedangkan mereka ada wi-fi gratis tapi super duper lama responsenya (setelah dikroscek, mereka terlalu lelah. Nyem. Gw maafkan kekurang ajaran kalian). Bersusah payah gw nyari rute dan bertanya sana-sini sampai akhirnya gw bisa sampai di Seoul Hostel. Sebuah hostel biasa di tengah kota Seoul, dibilang cozy ya biasa aja, fasilitas standar (kamar mandi, kulkas, rice cooker, microwave, wi-fi) dengan harga bersaing (sekitar 15 ribu won / malam / person). Anyway, dari Terminal Express Bus ke Seoul Hostel (sekitar daerah Jong-ro) butuh waktu hampir sejam perjalan dengan busway. Gw agak lupa line berapa, tapi butuh transfer 1 kali. Sesampainya di hostel, sesuai amanat dari Tante, gw coba mencari penjaga hostel berkawat gigi (am I right?) dan bertanya dimana kamar Agustina Lestary yang sudah dibooking. Si penjaga ini paham maksud gw dan coba membantu gw, dia coba ketuk kamar Tina namun ga ada tanggapan. Akhirnya dia berkesimpulan bahwa Tina Cs sedang keluar. Dalam hati gw bertanya-tanya dongkol “WHAT??? Keluar?? Demi apa gw disuruh ke Seoul dan mereka ga nunggu gw malah jalan sendirian???” Continue reading “Seoul Trip (1)”

Menghargai Hidup

Akhir-akhir ini gw menjadi sangat autis dengan diri gw. Bayangkan aja, dikasih libur 5 hari karen Chuseok (29 Sept – 1 Oct) tapi gw ga melakukan apa-apa, gw cuman mendangkal di rumah nonton drama dan other movies. Gila, kumat gw. Hal lain yang mendukung gw adalah “kemiskinan”. Yup, gw mahasiswa miskin dengan terbatasnya beasiswa bulanan gw disini. Tapi mak lagak gw selangit, jadilah tiap bulan ada aja sesuatu yang gw beli entah baju, makanan, dan other things yang sebenarnya bisa gw tahan. Udah banyak orang yang ngasih gw motivasi buat raising fund, tapi entah kok belum jalan-jalan aja nih rencana gw.

Dan puncaknya adalah semalam/ tadi malam/ malam lalu/ last night. Gw ingat keluarga gw di Indonesia dan gw hampir berakhir tidak bisa tidur. I remember them and asked how did they spend their time, their life without me? Apakah mereka bahagia? Apakah nyokap gw bisa tersenyum? Makan apa mereka? And finally, myself asked me how did my father spend his life without me? It has been more than one year gw ga ketemu bokap. Mungkin gw kategori anak kurang berbakti pada orang tua but believe me kalo gw sayang mereka dan try my best buat kebahagiaan mereka. Tiba-tiba aja malam tadi gw kembali teringat: gw hidup untuk apa? Dan itu benar-benar mengusik gw.

Ah, Tuhan, Allah, maafkan hambaMu ini. Gw yang berasa tiap hari berasa keimanan gw makin menurun dan hal ini terus berlangsung. Mau jadi apa gw tanpa bimbingan Tuhan semesta alam? Mau jadi apa gw tanpa His guidance? Padahal gw yakin, Allah ga akan kekurangan 1 hal pun tanpa penghambaan gw. Allah ga akan rugi sedikit pun tanpa keimanan gw. Tapi sebaliknya gw lah yang rugi besar, gw yang kalah telak. Dan bagaimana mungkin gw bisa menjadi besar dengan keadaan gw saat ini? I shoud appreciate myself, my life, my time. Karena waktu adalah kehidupan, dan kehidupan adalah waktu itu sendiri.