Connect the Dots

Baru nonton videonya Steve Jobs, ada beberapa hal yang pengen gw enlighten disini. Connect the dots. Apa yang loe pikir tentang connect the dots? Ini gw tuliskan kutipan yang gw suka:

“It was impossible to connect the dots looking forward when i was in college but it was very clear looking backwards ten years laters. Again, you can’t connect the dots looking forward,you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. Because believe in the dots will connect in around the world, will give you the confidence to follow your heart, even when it leads you of the wrong path and that all made the difference.”

Gw 100% agree to his speech. We can’t connect the dots looking forwards now, right? We only can connect them looking backwards.

Fighting has been enjoined upon you while it is hateful to you. But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not. (Q.S. Al-Baqarah:2)

Banyak hal yang gw rasakan dan pikir sekarang “oh, ternyata emang itu yang terbaik” meskipun dulunya ada penyesalan. I do regret “some decisions” that I have done but who knows they are the best decisions for me from Allah. Look at my state, mahasiswa S2 di salah satu perguruan tinggi di Korea. Meskipun bukan kampus yang terbaik dengan segala kekurangannya (baik beasiswa, sistem, pendidikan, dll), tetap aja ada banyak hal yang pantas disyukuri. Bahkan nyatanya hal yang harus disyukuri lebih banyak dari hal yang disesali. Lihatlah betapa dulu kondisi gw dan keluarga gw yang membuat gw haru masuk ke SMK Telkom. Dulu berpikir habis SMK bisa langsung kerja di Telkom atau perusahaan telekomunikasi lainnya. Namun Allah berkehendak lain, gw masih bisa lanjut kuliah di IT Telkom. Gw pernah coba masuk UGM, namun ditolak. UNLAM? Ga tau harus masuk apa. ITB? Gw dulu taunya sekolah disana mahal, ternyata ya ga juga. Hampir sama mahalnya kayak di IT Telkom bahkan IT Telkom mungkin lebih mahal. Dari D3 akhirnya gw lanjut S1. Siapa sangka gw yang dari SMK emang pengen kuliah di luar negeri akhirnya bisa S2 di Korea. Kalau gw ga kuliah di IT Telkom mana mungkin gw kenal sama senior yang nawarin beasiswa ini. Semuanya sudah diatur dan gw cuman bisa menghubungkan semuanya saat ini. Ini baru tentang sekolah, masih banyak hal lainnya. Jika gw kuliah di tempat lain, mungkin gw ga kenal dengan yang namanya tarbiyah dan orang-orang baik yang mengajak gw untuk lebih kenal dengan Islam. Menarik memang. Kita memang tidak bisa menyangka dan mengubungkan semuanya sekarang. Namun, 10 tahun lagi, 15 tahun lagi, jika masih hidup di dunia ini, maka insya Allah. Kita akan semakin sadar bahwa Allah memberikan yang terbaik untuk hambaNya. Wallahu’alam bishshawab.

See you later!

Advertisements

Delusional #2

Selamat buat gw yang sudah sejak 2009 menetapkan target lose weight agar memiliki badan ideal dan sixpack namun belum tercapai. Mari kita hitung: 2009-2012 = almost 3 tahun. Gw mulai fitness akhir tahun 2009 seteleh kepengurusan BEM 2009.  Sempat turun sekitar 5 kg dan berhenti diet tengah tahun 2010 sampai April 2012 lalu. Well, gw kembali menetapkan target ideal gw, dan setelah April-Mei 2012 gw udah bisa turun 5 kg. Tinggal 2 – 3 kg lagi nih yang harus gw kejar. Gw penasaran bagaimana caranya orang-orang mendapatkan perut sixpack? Honestly, di Korea sini gw semakin bersemangat karena laki-laki disini bodynya bagus-bagus. Gw berasa minder dengan body pendek bulet TT_TT makanya gw bertekad untuk sehat dan meningkatkan kepercayaan diri dengan menguruskan badan.

Apakah tubuh kurus itu penting? Penting! Gw bahkan udah lupa bagaimana rasanya kurus (udah lama banget gw ga kurus). Penyebabnya adalah gw jarang olahraga. Gw suka tennis tapi ga istiqomah. Gw suka lari tapi gw ga suka basket dan sepakbola. Gw lebih suka dan senang menghabiskan waktu gw 2 jam di gym dengan alat-alat yang ada disana. Pokoknya, 2012 adalah sixpack! I must have sixpack! camkan itu dalam-dalam 😀 Sapa tau gw direkrut jadi anggota ke-14 Suju atau ke-7 2PM. ya ga? #ngakak

Coward Side

Gw merasa telah melakukan hal bego bin tolol sore ini. Gw udah menuliskan sebuah email ganteng buat si Mr. X dan berujung gw kirim ke email gw sendiri. Waeyo? Karena gw ga pede ngirim email ke do’i. Gw berasa campur aduk. Ga enak lah, inilah, itulah, etc yang ga penting. Am I too sensitive? Yes, I am.

Gw cuman sulit mengungkapkan apa yang gw rasakan. Sama ketika loe pengen ngucapin “Mama, Papa, I love you!”. It’s not that hard but still it’s not easy kan? I bet you ever did the same 😀

Well, disini gw bukan mau menekankan gw atau loe semua pernah mengalaminya atau ga tapi gw sedang merasakan hal ini. Emang sih ga semua hal kudu dishare sama orang lain, tapi gw berasa perlu ngeshare hal ini dengan si Mr. X ini. Ribet ga sih? Gw membuat semua ini menjadi ribet. Apa susahnya sih: gw udah tulis, di send to juga udah ada alamat emailnya, tinggal one fast click doang udah deh beres. Tapi once more, ini ga semudah yang loe bayangin. A plan without action is a bullshit! Iya kan? Gw takut ngirim email ke Mr. X kalo semua yang gw tulis cuman akan menjadi deretan bullshits!

Sisi

Menelaah ruh dalam diri yang terkikis perlahan dalam menjalani hidup sesuai dengan kehendakNya. Mulai tak berpola. Ibarat lukisan, maka sudah pasti bahwa diri ini terlukis abstrak. Ibarat garis, maka diri ini akan membetuk garis berbelok-belok tanpa pola. Pun jika tujuannya adalah 0 derajat ke atas, maka diri ini, aku si pelaku, mulai membuat arah tujuan 0 derajat ke bawah. Aku menjauh dari tujuan.

Aku, si pelaku, menulis ini bukan untuk memperumit diri sendiri. Ada banyak sisi jika dilihat. Manusia pun memiliki variasi sikap yang berbeda. Begitu pula diriku. Aku berbeda. Menyadari, merasakan, dan membuktikan bahwa sikap dan pikiran sudah sangat jauh dari prinsip. Kalah kah? Kalah dengan lingkungan dan suasana. Terbuai dan mulai terhipnotis arus dunia.

Seyogyanya sebagai manusia yang “harus” sadar akan prinsip sekali untuk selamanya maka tidak akan rela jika mengabaikan waktu dengan percuma. Rugi. Sungguh termasuk golongan yang merugi. Melalaikan kewajiban, menyepelekan keharusan, dan memudahkan sesuatu yang pada dasarnya sudah mudah. Kali ini tidak untuk mengutuk diri, karena Alhamdulillah masih diberikan kesadaran bahwa “ini salah” maka perbaiki lah diri segera. Bukan hanya sekadar ucapan, tapi buktikan dengan perbuatan. Kapan waktu kita mati? Tidak tahu, Menohok. Pertanyaan yang selalu membuat bungkam. Berapa besar shodaqoh yang dikelaurkan jika dibandingkan dengan harga pakaian yang dibeli, biaya-biaya kesenangan yang lain? Sulit. Pertanyaan yang sulit. Maka mulai hari ini, kembali lah pada tujuan awal. Kembali lah pada jalur, arah, dan garis yang seharusnya. Bukan untuk memaksa diri, bukan untuk menentang diri, bukan untuk tidak membuat nyaman, karena sesungguhnya diri kita sendiri mengetahui batas-batas wajar yang tidak boleh dilanggar, karena diri kita sendiri memiliki akal untuk berpikir menuruti aturan yang DIA buat.