Nerbitin Buku

Entah dari kapan obsesi menjadi penulis mendarah daging di diri gw. Hari ini cita-cita itu kembali menggelora. Gw paham betul kalau kemampuan gw masih cetek. Jangankan nulis buku, nulis paper yang cuman kadang isinya 4 lembar adalah suatu yang sulit buat gw. Tapi kan nulis paper sama nulis buku ini memiliki cerita yang berbeda! Gw coba menyakinkan diri gw.

Image

Sebenarnya gw ga mau muluk-muluk. Pertama, gw bukan penulis professional yang hidupnya tergantung dari tulisan. Kalau gw survey, para penulis professional itu bisa sampai berhari-hari mendesain tulisannya, semalaman suntuk begandang untuk menjaga mood menulisnya dan keutuhan ceritanya. Gw? Gw ga bisa begitu sekarang. Gw masih berasa sebagai engineer tulen. Kedua, sebenarnya masih terkait hal pertama. Gw mesti melakukan riset gw. Kalau ga, gw akan sulit lulus dan terancam dideportasi secara tidak gratis ke negara asal. Dan gw ga mau hal itu terjadi sama gw. Ketiga, ada banyak orang yang membuat target untuk menulis setiap hari minimal 1 artikel. Gw juga udah berulang kali berjanji dengan diri gw untuk melakukan hal sama namun loe bisa liat hasilnya. NIHIL. Gw belum bisa sampai tahap itu. Liat aja daftar tulisan gw, gw ga nulis sama sekali di bulan Feb. Bukan berarti gw ga nulis sih, cuman gw ga publish tulisan itu di blog ini sehingga hal tsb mengganggu flow blog gw.

Dengan segala pertimbangan, gw masih tetap ingin menerbitkan buku atas nama gw sendiri. Gw lagi mencari-cari partner dalam menulis. Pernah terbersit menulis cerita tentang 4 sekawan yang menyukai kopi dengan latar belakang berbeda. Minimal gw yang paling berbeda karena berasal dari engineering dan yang lain dari pendidikan. Namun, apa yang kami tempuh saat ini sungguh sangat berbeda. 4 orang dengan jalan hidupnya masing-masing dan karakternya masing-masing. Gw jadi mewujudkan ceritanya.

Nah, tema yang paling realistis buat gw adalah buku mengenai ke-Korea-an. Gw lagi punya ide membahas tentang ini. Mudah-mudahan bisa rampung dalam 6 bulan ke depan. Kelamaan ga ya? Apa 3 bulan aja? Lihat aja deh realisasinya bagaimana 🙂

안냥!!

Advertisements

Wanita Itu

Siapa yang bisa menebak hari esok, bahkan sedetik kemudian pun tak ada yang tau apa yang akan terjadi. Aku teringat tentang cerita seorang teman, seorang sahabat yang sangat dekat. Tentang keluarganya.

Aku kembali memikirkan bagaimana perasaan seorang wanita 44 tahun ditinggalkan oleh suaminya karena wanita lain. Dia kini sendiri. Ada banyak faktor memang, aku tak bisa menyalahkan suaminya tersebut 100% karena pasti sang isteri juga mengambil peranan dalam kejadian ini. Aku memikirkan bagaimana dia hidup sehari-hari, berdua dengan anak perempuannya yang berusia 12 tahun. Wanita ini mempunyai 3 orang anak. Anak pertama tinggal bersama suaminya di kota yang berbeda. Anak kedua sedang menempuh pendidikannya di luar negeri. Mereka hanya berkomunikasi lewat telpon atau sms atau YM. Aku merasa iba, bagaimana tidak. Wanita itu tidak bekerja sehingga tak ada penghasilan. Selama hampir 8 bulan ini dia mendapatkan uang dengan menjual harta yang tersisa. Pengeluaran per bulannya cukup besar. Harus bayar cicilan rumah, listrik, sepeda motor, air, dan makan sehari-hari. Lebih daripada itu, aku iba dengan kesendiriannya. Membayangkan hari-hari yang dilewati, membayangkan malam-malamnya yang sendiri. Apakah ia selalu menangis di malam hari? Bagaimana sesungguhnya perasaannya?
Aku termenung. Bagaimana kalau wanita itu ibuku? Bagaimana perasaanku? Sedih.
Di usianya yang beranjak tua, dengan cobaan seberat ini. Aku salut dengan kesabarannya.
Dia menahan luka hati yang sungguh besar. Seperti badai siang hari.
Dia sendiri. Aku terbayang kesendiriannya. Aku merasa sakit hatinya.
Wahai Engkau wanita berhati baja, tabahkan hatimu. Aku panjatkan do’a pada Tuhan Semesta Alam agar selalu menjagamu. Aku berdo’a agar airmatamu menjadi penggugur dosamu, penguat kesabaranmu. Aku berdo’a untuk setiap jerih payahmu diganjar olehNya dengan kelipatan pahala. Bertahan demi anak-anakmu. Bertahan karena kekuatanmu. Bertahan, karena Allah selalu ada untukmu.

9 < 10

Lama juga ini ga nulis note. Oke lah, gw tulis sesuatu yang bikin perasaan bosan terhadap korea.

9 hal yang membuat Korea ga asoy pisan: #kenapa 9? karena 9 itu kurang dari 10#

1. Harga tarif listrik dan gas yang mahal. Masa iya 1 kontrakan gw itu mesti bayar 250ribu won perbulan hanya untuk gas dan 100ribu untuk listrik. Kali aja tuh 8, bisa beli iPod baru gw.

2. Harga tiket bioskop yang mahal. Gosipnya sih 8-10 ribu (CMIIW) getoh, ajeeeb kan? kalo di Indonesia 15ribu udah bisa nonton puas tuh. harga di blitz juga ga akan semahal ini. dan gw butuh SUB KR-Eng.. *njleb

3. Nyari oatmeal *let’s say quaker oat* di suatu kota kecil ini (padahal ga kecil2 amat) dan gw ga menemukannya! Udah nyari ke Lotte Mart dan masih ga ada. Gw pengen diet oyyy #frustasi

4. Mau beli majalah men’s health itu juga sulit. Udah ngubek-ngubek om gugel dan gw belum nemu solusinya. Maknyos. Kalo di bandung, tinggal beli di warung samping Griya Buah Batu doang. Mau yang versi lokal ato internasional tinggal pilih. Harganya juga bersaing kok. Ga semahal disini T_T *meraung-raung*

5. Disini ga ada becak atau ojek. Mesti naik bus ato taksi. Mahal cuy. Hadeeeuuhh.. Kayaknya gw mesti bikin usaha ojekan nih.

6. Mau beli buku/novel karangan Indonesia susah pisan. Mau Gramedia cabang Korea dong! *ngasal* eh, BBC aja dah. Butuh diskon 30%!! #ngasal

7. Gw mau makan daging harus mikir. Mikir dan bisa dimakan itu syukur banget. Lha mau dipake mikir juga ujung-ujungnya ga beli *haram boooook*

8. Ahjussi tukang bus suka ngomel dan memberikan tatapan mencurigakan. Kalo ga pake kartu bus kan mesti bayar pake uang cash. Nah, untuk “membuang” recehan yang menumpuk, bayar tarif bus adalah hal yang efektif. Cuman ditatap gitu tuh ga enak. Kesannya “uang loe kurang tuh”.

9. Ahjumma yang suka pegang. Buset gw lagi nunggu bus, ahjumma ngajak ngomong dan megang2 jaket gw. Gw ngerti maksud dia “dingin kan? jaketnya tipis” terus paha gw dipencet2 sama dia. Ini ahjuma melakukan sexual harassment dah! Dah gitu ngajak ngomong bahasa korea, udah jelas dari muka gw kalo gw bingung. Nah ini ahjumma masih aja nyerocos kayak kereta api ngajakin ngobrol. Maaf, ahjumma saya ga ngerti. Jangan ajak ngomong saya.

Nah, begitu lah esmosi gw di sore ini. Udah ngubek-ngubek om gugel beberapa jam demi mencari majalah & oatmeal di korea namun gagal. Tetap semangat diet! aza aza hwaiting!! *ganyambung%%^^^@&*@^$%