First, 한국

“So many of our dreams at first seem impossible, then they seem improbable, and then, when we summon the will, they soon become inevitable”. #Christoper Reeve#

Well, setelah (sangat) berharap agar mimpi sekian tahun ini bisa terwujud akhirnya Allah mengabulkan semua itu. Tidak tanggung, officially aku memperoleh 2 beasiswa. Namun, apa boleh buat dengan berbagai pertimbangan baik dari diri sendiri dan keluarga akhirnya aku memilih beasiswa di Korea Selatan ini.

Sekilas mengenai prosesnya, aku mendapatkan informasi beasiswa ini dari senior (hello Mas Fav, thanks yo) yang sudah lebih dulu satu semester mengambil pendidikan masternya di kampus tersebut. Ingat betul, baru nyampe dari Jakarta habis tanda tangan kontrak kerja, tiba di kosab Bandung di lantai dua sambil baca note dari beliau. My feeling was so optimist, I didn’t know why but I believe this is the way. Adapun langkah awal yang harus kulakukan adalah mengirimkan email perkenalan kepada professor bersangkutan. Tidak perlu waktu lama karena aku sudah punya default format SKSD, langsung kirim esok harinya. Alhamdulillah, berkas-berkasku sudah lengkap (persiapan beasiswa ke Jepang yang gagal). 2 hari dari email pertama akhirnya mendapatkan balasan dari professor yang tertarik dengan bidangku. Professor ini ternyata bukan professornya mas favian. Dan emang kami memiliki minat yang sama sehingga tidak ada salahnya dilanjutkan. Waktu demi waktu aku dan professor berkomunikasi. Aktivitas sehari-hari yang kulakukan adalah bekerja di sebuah perusahaan multi nasional bidang riset pemasaran. Kerja disini menyenangkan dengan tekanan yang berbeda (kapan-kapan aku ceritakan).

Adapun syarat beasiswa di kampusku (Kumoh National Institute of Technology) yaitu:
– TOEFL 550 / IELTS 5.5
– Academic Transcript
– Ijazah
– Formulir Pendaftaran (didapat dari professor)
– Recommendation Letter (2 buah)

Tibalah tanggal 5 September 2011. Tanggal bersejarah, hari Sabtu bersejarah. Untuk pertama kali aku akan berangkat keluar negeri. Negeri yang selalu kuinginkan untuk dikunjungi dan dalam beberapa jam ke depan akan kutemui. Kejadian hari ini begitu membekas. Banyak sekali alasan mengapa hari ini menjadi bersejarah. Mama, nelin, kakak, Papi. Semua bersejarah. Semua meninggalkan kesan mendalam. Dari Banjarmasin aku naik pesawat siang, sudah bisa ditebak bahwa bagasiku overweight. Aku harus bayar sekitar 200.000 rupiah untuk kelebihan bagasi ini. Tiba di Jakarta sepertinya sore menjelang malam, aku harus menunggu keberangkatam pesawat ke Korea tengah malam nanti. Disini aku bertemu dengan kawan-kawan seperjuangan Hamka, Fadil, dan Eddy. Mereka beriga adalah labmate ku di Korea.


Waktu tak terasa berjalan begitu cepat, pagi-pagi sudah tiba saja di Korea. Jauh diluar bayanganku, ternyata proses keimigrasian baik di Jakarta dan di Korea tidak begitu ribet. Hal-hal menakutkan seperti pemeriksaan tas, digeledah, dibentak-bentak tidak terjadi padaku. Yang paling mengejutkan adalah laptop yang aku bawa tidak diperiksa sama sekali. Alhamdulillah. Kalau tidak ya bisa berabe, hehe.. you know lah alasannya kenapa 🙂

Bandara Incheon sangat besar. Dari arrival gate menuju bus ticket kios aja pakai suybway internal. Ini pengalaman pertama naik subway dan berasa udik. Ternyata keren! Tak usah berlama-lama di Inchoen,aku dan 3 orang temanku langsung berangkat ke Gumi naik bus (harganya 28000 Won). Kejadian lucu disini ketika mau belanja di minimarket. Harga roti cuman 800 atau 1000, kaget berasa murah. Langsung dibeli tanpa pikir panjang. Setelah dipikir-pikir, agak mahal juga jika dikali 8. Hahaha..

Dari Inchoen ke gumi memakan waktu sekitar 3 jam naik bus. Tidak ada yang begitu menarik di sepanjang perjalan. Kiri-kanan hanya nampak bukit-bukit hijau. Standar dan hampir semuanya begitu. (Korea tak seindah yang dibayangkan 😛 ) Setengah perjalanan kami pun beristirahat di rest area. Agak aneh, masih kagok mungkin. Perut agak lapar tapi ga tau harus makan apa. Hal ini terjadi karena mempertimbangkan kehalalan makanan.

Tiba di terminal Gumi memberikan kesan yang berbeda dari terminal di Indonesia. Suasananya tak begitu ramai, tak berantakan, tak banyak sampah, dan canggih. ^^

Ada komputer umum disini. Cukup pakai koin 500 won bisa mengakses selama 10 menit. Yang heran adalah, ini komputer masih bagus dan tidak terlihat rusak (dirusak) oleh warga. Kalau di Indonesia, entah bagaimana keadaannya jika komputer seperti ini diletakkan di tempat umum. Kesan berikutnya adalah professor sendiri lah yang menjemput kami di terminal dengan mobil pribadinya. Terkaget-kaget ketika pertama kali disapa beliau. Jelas saja, aku duduk di depan komputer lalu tiba-tiba ada seorang lelaki menepuk pundakmu dan bicara padamu. I asked him: How do you know it’s me? He answered: It’s easy, you looks different. Haha.. Mind setku masih ada di Indonesia nih. Ya iya lah, gue getoh yang janggutan dan nampak coklat seksi (najong). gkgkgkgkgk..

Kayaknya itu dulu kisah awal my life in Korea. udah pegel nih tangan buat ngetik.
See you guys! Annyeonghaseyo 🙂

Advertisements

6 thoughts on “First, 한국

  1. thomhertsiadari says:

    yuk mari.. ntar aku tulisan selanjutnya tentang pengalaman-pengalamanku. Yah, 5 bulan lalu coba dirangkum pelan2 😀
    mana linkmu? perasaan udah aku add dah 😀

    1. thomhertsiadari says:

      hhehe.. blm sukses lagi nah.
      ariansyah kah? sebujurnya mun melihat muha ingat ae saku. kayapa kabar nih? masih di Ktb kah? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s