Do IT

Bisa jadi aku menulis ini dengan sangat emosional. Entahlah, hari-hariku kini dipenuhi perasaan galau dan gelisah. Benar saja, bagaimana tidak. Siang malam terpikir riset, terpikir bagaimana besok memulai hari. Apa yang harus dilakukan lebih dulu. Apa solusi dari error yang didapat dari ini. Iya, itulah hari-hariku saat ini.
Memikirkan bagaimana waktu dari jam 10 pagi sampai 10 malam di lab bisa efektif untuk mengerjakan target yang ada. Selalu deg-degan kalau ketemu professor yang ruangannya tepat di samping ruang lab. Suara buka tutup pintu ruangan professor menjadi bunyi kegalauan jiwa tersendiri.
Ya. Inilah keadaanku sekarang.


Berpikir mencari solusi dari sekian banyak problem yang ada.

Kawan, aku masih semangat. Iya, walaupun kadang tak nampak dari wajahku bahwa aku semangat. Tapi serius, aku masih semangat. Hanya semangat inilah yang menjadi alasanku untuk bertahan disini. aku yang berusaha, melakukan “perjudian” nasib menjadi lebih baik di kemudian hari dengan proses ini. Mungkin kasar dan tidak tepat, aku sedang berjudi dengan nasib. Mungkin.
Oportunis realistis. Aku memang ingin seperti ini, tapi apa sebenarnya yang aku ingin? Aku ingin kehidupan yang lebih baik. That’s it. Inilah caraku. Bagaimana caraku nanti memperbaiki keluargaku, menyenangkan orang tuaku, atau bahkan memperbaiki bangsa ini. Ini adalah langkah persiapanku. Aku berjuang karena memang ada tujuan baik untuk diriku maupun untuk orang lain.

Aku, tak perlu malu bertanya sana-sini. Aku masuk forum mana saja. Aku hubungin siapa saja. Bertanya, mengajak diskusi, dan lain sebagainya. Semua untuk mencari jawaban atas error yang kualami. Perasaan bingung ketika menulis email kepada seseorang yang tak kukenal dan menanti dengan was-was balasan emailnya jikalau ada secercah harapan untuk perbaikan dan kemajuan riset.
Itu adalah nuansa hati sehari-sehari.

Aku selalu berdo’a pada Sang Pemilik Ilmu, kuatkan aku. Kuatkan aku. Mudahkan dan lancarkan jalanku. Semua terjadi hanya karena pertolonganMu.
Aku tak ingin menodai pikiran kecilku dengan menduakanMu. Aku tak mau mendzalimi diriku sendiri karena lalai waktuku. Aku mencoba dan selalu berusaha agar tiap waktu yang kulalui adalah usaha untuk mendekatkan diri padaMu. Jangan jadikan ilmu dan usaha ini menjadi penyebab menjauhiMu.

–in the middle of doing research @_@ —

Advertisements

2 thoughts on “Do IT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s