Pisang Ijo Series: Tangkuban Perahu (part-1)

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Tuuttt…tttuuttt…tttuuuuttt.. handphone-ku berbunyi, pertanda ada sebuah pesan singkat yang masuk. Tertawa membacanya, Mas Kupat kok mulai menandakan keanehan. “Hm, gak suka ni ma orang kaya gini.?! Ya jadilah say… ^_^. Wkakakakakakak. Jam 7 kumaha? Ato mau lebih pagi? Tafadhdhal bro”. Itulah jawaban atas pesang singkat pertamaku yang menanyakan kepastian rencana esok ke Tangkuban Perahu. Akhirnya pesannya kubalas, aku mau habis subuh berangkatnya. Deal. Waktu dan tempat telah diputuskan, aku menjemput kupat di kosannya setelah shalat subuh.

Malam minggu ini menjadi malam yang cukup spesial menurutku, karena aku harus bertemu calon keluarga baruku. Yup, my new usrah!Dalam bahasa Arab usrah berarti keluarga. Semua kegiatan malam minggu ini telah kususun dengan rapih, kapan harus berangkat dari rumah agar tidak terlambat hadir dalam pertemuan pertama nanti. Tepat jam 19.54 aku tiba di tempat tujuan. Lebih cepat 6 menit dari pada waktu yang seharusnya. Tapi memang seperti itulah harapanku. No late! Kesan pertama itu sangat berarti.

Di tempat tersebut aku bertemu dengan beberapa orang teman yang kukenal, just say hallo lah. Sudah lama tidak bertemu. Sedikit melakukan perbincangan dengan seorang senior yang cukup aku kagumi (cukup? Lumayan terkagum-kagum sebenarnya), sharing sebentar lalu bubar karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam lewat. Makin deg-degan aja nih. Teringat pertemuan terakhir dengan pembinaku. Mengatakan bahwa sebenarnya aku agak enggan untuk dipindahkan. Tidak jadi masalah krusial sebenarnya. Toh, inti dari pembinaan bukan pada siapa yang membina. Cuman, aku sudah terlanjur nyaman dan sayang dengan beliau. Yah, ada beberapa hal yang membuatku enggan. He, aku tidak ingin share masalah yang ini. ^^

Tak terasa hampir 3 jam pertemuan tersebut berlangsung, kami pun membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing. Sebelum pulang aku teringat harus membeli roti terlebih dahulu guna bekal perjalanan esok hari. Akhirnya satu roti sobek rasa coklat menjadi pilihanku. Di perjalanan pulang, aku menyusun agenda kembali, pulang ke rumah, ngenet bentar, terus tidur. Dan tidak jauh beda dengan rencanaku, jam 23 lewat aku sudah terlelap.

Kriiiing…. Kriiiinnngggg… Kriiiinngggg…. Suara alarmku berbunyi..

Huuuuaaaahhhhh… Dengan sisa-sisa semangat yang ada aku beranjak dari tempat tidur. Berusaha mengupulkan nyawa secepatnya. Kepala terasa berat. Hati ini pun berniat untuk menggagalkan rencana hari ini. Tapi tidak! Aku gengsi dengan kupat. Apa yang akan dia katakan kalau rencana ini sampai kubatalkan. Waduh… tidak terbayangkan lah pokoknya. Buru-bur atur strategi. Minum, mandi, ke masjid buat shalat subuh berjama’ah.

Pyuhh… Buru-buru pulang dari masjid, sampai-sampai tidak ikut pengajian rutin minggu pagi, smsku tidak dibalas oleh kupat!! My God. Kupat oh kupat! Kupat keparat, insting detektifku mengatakan kupat masih tidur. Dua kali kukirimkan pesan singkat belum juga dibalas olehnya. Sambil menunggu balasan aku pun merebahkan diri di kasur kecilku yang empuk. Tak terasa ternyata aku ketiduran. Mungkin sekitar 30 menit. Astaghfirullah. Tersentak bangun, kaget ada bunyi pesan singkat. Ternyata dari kupat. Dugaanku pun benar. Dia bilang kesiangan, padahal sudah bangun tapi ketiduran lagi. Ckckckck.. tapi tetap, dari hasil syuro singkat kami, diputuskan kami berangkat jam 6.30 pagi dan aku harus menjemputnya (berasa ojeg).

Kulirik jam di handphone-ku, ternyata masih jam 6an. Masih bisa minum teh dan makan roti nih pikirku. Segelah teh hijau madu hangat sepertinya akan sangat nikmat. Dispenser kunyalakan, tunggu panas bentar, seduh, diamkan 5 menit, teh hijau siap dinikamti. Oallllaaaaahhhhhh.. ssssrrruuuuuppppp…. Nikmatnya teh hijau madu ini.. sebelum berangkat harus browsing dulu nih, harus melihat beberapa berita dan tidak lupa mengecek situs jejaring sosialku, siapa tau ada berita baru. Hehehe ^^
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 06.40an. sudah telat 10 menit dari jadwal seharusnya. Aku bergegas, ganti bacu, masukin beberapa peralatan tempur: roti, botol minum, dan benda wajibnya yaitu KAMERA!! Sudah siap semuanya, baterainya pun sudah full. Hasrat seni dan jiwa jadi fotomodel sudah tak terbendung lagi. Hari ini kudu jadi FOTOMODEL dah pokoknya! Hahahaha..

Let’s go boy…. Dengan motor biruku, helm biru, baju hijau, celana coklat, sandal eiger, kaos kaki hitam, topi coklat dari Kemenpera, 2 handphone, jam tangan, dan bermodalkan 2 lembar 50ribuan + beberapa puluh ribu kumpulan uang 5ribu dan 10ribu aku pun siap menggoyang Bandung!!

Tak perlu waktu lama, dengan kelihaian dan kepiawaian serta jalanan yang lengan, jam 7 pagi kurang aku sampai di depan kosan kupat. Nunggu beberapa menit, kok ni anak lambat bener ya, pake acara dandan deh pastinya. Hahahaha. Ternyata benar. Kupat memakai kemeja hitam, bercelana coklat, bersepatu, dan membawa tas hitamnya. Busyyyyeeetttt dah. Aku merasa dia sangat lebay. Mau ke Tangkuban Perahu aja dandan gini. Alam boy. Itu alam. Kok pake kemeja?? Hahaha… ni dandanan kayaknya lebih kece dari pada dandanan kalau datang daurah dan pekanan. Sekali lagi, hanya bisa menahan tawa di hati.. 😛

Wuuuuuusssss……Wusssssss……. Wuuuuuuusssssssss….

Rute perjalanan kali ini: Kosan kupat-Pom bensin-Lewat Bubat-Braga-Cihampelas-Geger Kalong-Ledeng-Naik terus-Tangkuban Perahu. Ternyata rutenya gampang. Lurus-lurus aja. Hehe. Padahal ini pengalaman pertama ke Tangkuban Perahu. Hanya butuh 1 jam 30 menit sudah sampai ke Tangkuban Perahu dari Dayeuh Kolot ini. Mungkin karena masih pagi, jadi kondisi jalanan tidak terlalu macet. Dan fakta yang terungkap, gerbang masuk Tangkuban Perahu ini berseberangan dengan Cikole, tempat bersejarah BEM KBM 2009. 😦

to be continued part-2..

Note:
*Alhamdulillah, ada banyak orang yang mengingatkan betapa pentingnya menulis. Dan teringat tulisan salah satu kawan di BEM, aku berniat menuliskan sedikit cerita unik dan lucu tentang kehidupanku di Kampus Telkom ini.. Syukran, Jazakillah khair.

*Tolong beri masukan (kritik dan saran membangun) ya untuk tulisan saya 😀

*Mas Kupat = Akhina Arief Mirtahur Rohman, maaf jika tidak berkenan. Sebutan ini diperoleh dari kebiasan Geng Jawa (Uli,Toha,Ekhsan,Budi,Fathur) memanggil beliau dengan kata “Kupat Tahu”. eh, jadi ketularan deh,,., Yang jelas saya tidak bermaksud menghina anda Mas Arief.. ^^

Advertisements

One thought on “Pisang Ijo Series: Tangkuban Perahu (part-1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s