“Jebakan Megalomania”

Kamu hebat. Tapi tidak boleh merasa hebat. Kamu besar. Tapi tidak boleh merasa besar. Kamu berkuasa. Tapi tidak boleh merasa berkuasa.”

Secara harfiah megalomania sendiri berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua suku kata yaitu Megalo yang berarti sangat besar, termasyur, atau berlebih-lebihan, dan Mania yang berarti bentuk obsesi yang berlebihan terhadap sesuatu, dimana ketika digabungkan maka akan diartikan sebagai bentuk obsesi berlebihan yang mendorong seseorang pada kebutuhan akan keasyikan tertentu terhadap sesuatu yang bersifat irasional, bentuk irasional tersebut terkadang adalah perasaan kemuliaan dan kebesaran yang berlebih-lebihan atas diri sendiri. Megalomania merupakan bentuk manifestasi keadaan patologis dimana seseorang memiliki suatu bentuk fantasi terhadap kekuatan, kekayaan dan “kemaha-besaran” didalam dirinya, hal ini terkadang disebabkan oleh obsesi mereka akan kebesaran dan kemuliaan, baik itu secara pemikiran atau perbuatan, yang tidak tercapai.

Para penderita paham kebesaran akan tetap mempertahankan keyakinan tersebut walau telah terbukti bertolak belakang dengan kenyataan sekalipun, dengan tujuan memenuhi hasrat obsesi mereka dalam bentuk fantasi, namun sangat berlebihan.  Pada taraf kritis megalomania dapat membahayakan penderitanya dikarenakan keyakinan dirinya untuk mampu melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh manusia normal, seperti mampu terbang dari gedung bertingkat atau bahkan dapat menghentikan kereta api yang sedang melaju kencang hanya dengan menggunakan satu tangan saja.

Terlalu tipis perbedaanya. Tapi bukan tidak mungkin untuk ditemukan selama kita jujur: nilakah amarah dan ambisi ini, atau embun. Hanya, ini juga bisa jadi awal dari riwayat megalomania yang panjang.

Suatu saat ketika kamu merebut kemenangan demi kemenangan, kekuasaan yang semakin bertumpuk. Musuh sudah kau taklukkan semua. Tak ada lagi yang berani melawan. Semua orang mulai tunduk padamu. Di sekelilingmu hanya ada para pemuja. Musuhmu menyelinap ke dalam bentengmu. Ke dalam dirimu sendiri. Halus. Sampai kau bahkan tak mengenalnya. Kamu mulai merasa besar. Itulah awalnya. Kamu mulai merasa besar.

Kamu sebenarnya layak merasa begitu. Sebab kemenangan-kemenanganmu. Pengakuan musuh-musuhmu. Kekaguman sahabat-sahabatmu. Kekuasaanmu yang terbentang luas. Kamu memang hebat. Dan besar. Itu fakta. Tapi itulah jebakannya. Merasa besar itu.

Seperti itulah pada mulanya. Fir’aun merasa besar. Lalu merasa mirip-mirip Tuhan. Kemudian merasa layak jadi Tuhan. Maka, ia pun berseru, lantang, di tengah gelombang massa rakyatnya yang patuh-patuh itu, “Akulah Tuhan kalian.”

Luar biasa rumitnya. Kamu hebat. Tapi tidak boleh merasa hebat. Kamu besar. Tapi tidak boleh merasa besar. Kamu berkuasa. Tapi tidak boleh merasa berkuasa. Fakta dan perasaan tentang fakta yang harus dipisah. Kekuasaan dan perasaan tentang kekuasaan yang harus dijauhkan. Itu menyakitkan. Orang-orang tidak menyukai situasi itu.

Ini perjuangan yang berat. Temanya adalah belajar memahami asal usul kita sebagai manusia. Kamu diciptakan. Kamu tidak menciptakan. Kamu hadir ke dunia tanpa apa-apa. Terlalu banyak orang berjasa atas dirimu. Terlalu banyak yang tidak kamu tahu. Terlalu banyak yang tidak kamu kendalikan. Kamu bisa kendalikan angin? Laut? Gunung?

Kamu sebenarnya tidak hebat benar. Tidak berkuasa benar. Jadi kamu tidak punya alasan untuk merasa hebat atau berkuasa. Apalagi merasa mirip Tuhan. Apalagi merasa layak jadi Tuhan. Lihat saja Fir’aun. Mati ditelan laut. Lihat saja Soekarno. Jatuh juga dari kekuasaannya. Lihat juga Soeharto. Lengser juga akhirnya.

Khalid bin Walid mungkin tersanjung. Bait-bait sanjungan dan kekaguman sang penyair membuatnya berbunga. Dia memang hebat. Sebagai panglima perang atau Gubemur Qinnasrin. Dan dia merasa hebat. Perasaan itulah yang membuatnya bermurah hati. Ia menghadiahi sepuluh ribu dirham untuk sang penyair.

Tapi itulah sebabnya. Atau salah satu sebabnya. Lelaki yang hebat. Sangat berkuasa. Ditakuti musuh. Dikagumi sahabat. Tapi dia melanggar tabu. Dia merasa hebat, tersanjung, lalu terjebak. Sepuluh ribu dirham ini memang dari koceknya sendiri. Tapi itu terlalu boros untuk menghargai sebuah sanjungan. Maka, Umar pun memecatnya.

Karakter dari pengidap gangguan jiwa ini adalah kebutuhan akan kekuatan total dan kontrol terhadap yang lain dan ditandai dengan kurangnya empati atas segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhannya tersebut.

NB:

*ini bukan tulisan saya, hanya menyalin dari file seorang Al-Akh yang tidak mau disebutkan namanya. Hanya ingin berbagi ilmu, karena saya menyukai tulisan ini. Kalaupun ada seseorang yang benar-benar menulisnya, tolong informasikan di blog ini. Terimakasih 😀

*beberapa istilah diambil dari http://ruangpsikologi.com/megalomania-dalam-kepemimpinan

Advertisements

8 thoughts on ““Jebakan Megalomania”

  1. thomhertsiadari says:

    hahaha.. namanya juga ikhtiar ta..
    sampe saat ini masih pure pengen nulis dan share ilmu.. blm ada embel2 bisnis..
    menambah ladang amal nih..
    sering2 komen ta..

  2. Aldo Al Fakhr says:

    An rasa ada banyak kata2 ust anis matta dlm tulisan itu. sebaikny dan sebijakny mencantum nama penulisny kalau itu bukan murni tulisan kita.. lain halnya kalau,saduran..
    ini tadzikroh utk antum…
    afwan

    1. thomhertsiadari says:

      hehe.. ini bukan tulisan ana akh, di bagian terakhir juga sudah ditulis kalu file ini diambil dari seorang Al-Akh yg tidak bersedia dicantumkan namanya. karena beliau lupa, beliau yg menulisnya atau bukan. tp ana udah konfirmasi. so, ana juga ga tau siapa penulisnya.. tapi ga bermaksud menjiplak, hanya ingin berbagi.
      hehe,, nuhun2 atas masukannya. akan ana tambahkan info lebih jelas kalau ini bukan tulisan ana.

    1. thomhertsiadari says:

      hihihi iya tah yuk???
      aku suka warnanya ijo yuk..
      hhmm.. ini bukan tulisan asliku.. cuman pengen share aja..
      cek tulisan2 yg lain yuk, trs nanti kasih comment.
      oh ya, aku blm sempat berkunjung lagi ke blogmu..
      idola ciliknya seru banget kayaknya di blogmu ya..

  3. dianfuraidah says:

    kak, kakak kan jago php tuh.. upload tema yang lain dari yang lain donk.. jangan tema standar gini. Aku pernah nyoba pake filezilla, ngikutin petunjuk tapi gak berhasil.. hmm.. aku gak pernah ngurusin blog ku lagi nih, udah bau apek, berantakan dan banyak kotoran kayaknya..

    1. thomhertsiadari says:

      oohh,, kalo yg itu setau saya sih harus web sendiri. gmn ya ngejelasinnya. yg jelas ga bisa kalo pake yang blablabla.wordpress.com
      harus yg bikin sendiri, trs ditaruh di di webserver gt deh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s