Dengarkan Curhatku

Hal ini terjadi malam Sabtu, 20 Juni 2009. Tepat sebelum ana mau tidur, jam 22.00 WIKos
Tertorehkan sebuah tulisan ungkapan hati dari seseorang.

Malam ini rasanya hati ini sakit sekali
Ada yang mengganjal
Belum plong, dan tidak lega..

Rasa kecewa sekali ketika mendengar ada saudar kita yang menyakiti hati saudara yang lain
Tidak tau kenapa
Rasanya perih….
Prihatin..

Berulang kali menyakinkan dan introspeksi diri
Apa ada yang salah dengan sikap, kata, dsb?

Hari berlalu, mencoba ikhlas dan memaafkan
Ternyata sulit, dari beliau tidak merespon apapun

“Sakit akh, sakit sekali.”, ujarnya padaku.
Lalu apa yang harus kuperbuat?
aku cuma bisa menangis mendengarnya.
Malam ini aku benar-benar menangis karena kecewa dengan saudarku.

Seharusnya aku tidak boleh kecewa pada manusia. Tidak Boleh!!
Hanya percaya pada Allah..
Hasbunallah wa ni`mal wa kiil…
Aku berusaha menahan kecewa hati ini..
=================================================================================
Ada banyak pendapat terkait tulisan tersebut, termasuk dari akhuna Dedi R: ‘Seandainya ada komitmen yang benar terhadap dakwah. Niscaya aktivis akan berlapang dada dalam menyikapi kekeliruan saudaranya’. Kalimat tersebut yang kata beliau mengutip dari salah satu buku.
Ikhwahfillah, ana pribadi beberapa hari ini mempelajari, bahkan bukan beberapa hari lagi sudah berminggu-minggu lebih tepatnya. Ada banyak hal yang terjadi dalam pergerakkan dakwah ini. Terutama dakwah kampus. Tidak semua hal kemudian kita pukul rata sama. Metode zaman tertentu atau tahun sebelumnya belum tentu bisa digunakan pada zaman sekarang. Dituntut kecerdasan berpikir, kekreativan kita dalam menyusun strategi dakwah. Kemudian diperbincangkan ini melanggar ibadah yang mahdhoh. Lalu bagaimana? Setahu ana, afwan kalau salah, “Dakwah itu kan menyeru, masalah hasil tergantung Allah SWT”. Yang paling penting berusaha. Namun tidak juga mengatakan sudah berusaha padahal hanya melakukan hal sepele. Kecuali memang benar setelah berusaha dengan sungguh sangat maksimal dan kemudia terbentur peraturan-peraturan atau hukum-hukum yang sudah ada.
Selanjutnya adalah etika berjama’ah. Bagaimana kita percaya kepada saudara kita dalam jama’ah ini berjuang dalam dakwah. Kita harus saling percaya, bukan malah saling hujat, saling menghina, bahkan mencemooh tindakan saudara kita dalam wajihah tertentu. Pernah ada kejadian yang ana ingat, si Fulan mengeluarkan pernyataan bahwa “wajihah A tidak bisa diandalkan”. Sungguh sangat disayangkan kok bisa-bisanya pernyataan seperti itu keluar dari beliau. Membangun kepercayaan. Itu intinya. Kita pun dituntut untuk menghargai hasil syuro, jangan semena-mena. Atau mengutamakan pendapat pribadi. Hasil syuro mau salah mau benar ya kita ikuti. Ingat bagaimana perang Uhud terjadi? Rasulullah walaupun tidak setuju untuk melaksanakan perang tapi toh mengikuti hasil syuro untuk tetap berperang. Ketika kalah apakah kemudian Rasulullah menyalahkan, tidak.
Pernah suatu kejadian pada ana, ada seorang ikhwah yang kurang setuju dengan keputusan yang ana ambil. Beliau men-tabayyun-i ana dengan baik-baik, bertanya baik-baik. Pun dijawab dengan baik-baik. clear. Tidak ada masalah yang berkelanjutan.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al-Hujurat:10-12)
Terakhir adalah Bagaimana DAKWAH itu sangat berat. Banyak rintangan. Banya fitnah. Bahkan bisa dari mana saja. Tidak terkecuali dari internal kita sendiri.
Mengambil dari blog seseorang:
Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan
meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu.
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang
umat yg kau cintai.
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di
tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang
hancur lebur dipaksa berlari.
Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang
akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat
yg diturunkan Allah.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya
sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi
orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.
Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang
segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah
kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai
jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga
terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa
pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya
diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang
sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang
bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah
bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah
bukannya sepi dari godaan kefuturan.
Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama
mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan
segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.
Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu
menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana
pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan
rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus
mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk
mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.
Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.
Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda
dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar
wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.
Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi
kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya
adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan
pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan
Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya
besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu
mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru
jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah
dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… ”
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya
dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta…
Mengajak kita untuk terus berlari…
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.

Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.

Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.

Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.

Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

(alm. Ust Rahmat Abdullah)

In memoriam Ust. Rahmat Abdullah

Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa di tiap tepi waktu, terlampau banyak ajakan untuk meninggalkan jalan hidup Rasul-Mu. Dan di beberapa tepian waktu itu aku berharap tetap istiqomah. Ya Allah kumohon jaga harapan itu sampai akhir hayatku. Karena tak sedikit yg kehilangan sekedar rasa ‘ingin’ untuk istiqomah..

(http://kareen-luv-alquds.blog.friendster.com)

Itu saja yang bisa ana ceritakan. Adapun seandainya ada hikmah yang bisa diambil ana ucapkan Alhamdulillah. Di lain hal, pasti terdapat banyak kekurangan. Untuk itu bisa antum langsung sampaikan ke ana melalui email atau sms atau telp atau lewat milist kita ini juga. Wallahu’alam bishshawab. Jazakumullah khairan katsiran.

Best Regards,

Thomhert Suprapto Siadari

Menteri Pendidikan dan Kaderisasi BEM KBM IT TELKOM 2009

-orangyangmasihterusbelajar-

===============================================================

“….Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan sebaik-baik pelindung” (Q.S Ali-Imran:173)

Advertisements

3 thoughts on “Dengarkan Curhatku

  1. dakwah itu ditopang rasa ukhuwah,
    ukhuwah itu tidak menyakiti dan mendzalimi saudaranya,
    kadang kita sombong merasa paling tahu dan paling suci, dan akhirnya menyakiti saudara kita yang mungkin dimata kita melakukan kesalahan..

    Allah saja Maha memaafkan, jika bukan kita yang memaafkan kelalaian saudara kita yang sama-sama berjuang di jalan dakwah, lalu siapa lagi?

    Setiap orang pernah melakukan kesalahan, termasuk diri kita sendiri, dan tentunya saudara kita, tapi mereka pasti punya sisi baik yang mungkin tidak kita miliki

    Ya Allah hindarkan kami dari rasa berbangga diri dan lisan yang menyakiti perasaan saudara kami.. amin

    nb: nice post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s